Pujian Ulama Terhadap Kitab Fathul Bari

Disember 13, 2012 § Tinggalkan komen

Al-Hafiz Ibnu Hajar Asqalani menulis kitab “Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori” selama 25 tahun lebih. Beliau memulai pada awal tahun 817 H dan selesai pada awal bulan Rojab tahun 842 H.

Al-Hafiz Ibnu Hajar yang pernah berguru dengan ulama besar seperti Ibnul Mulaqqin dan al-Iraqi (al-Iraqi lah yang pertama menggelari beliau dengan gelar ‘al-Hafiz’), menempuh metode menakjubkan dalam mengarang kitab Fathul Bari. Awalnya melalui imla’ (lisan) selama 5 tahun, kemudian beberapa muridnya yang cerdas berkumpul dan mengusulkan agar syarah tersebut dibukukan. Ibnu Hajar kemudian menyetujui usulan muridnya dan beliau menulis dengan tangannya sendiri sedikit demi sedikit, sehingga kitabnya telah dikoreksi dan diteliti secara jeli.

Tatkala kitab syarah al-Bukhori tersebut selesai, al-Hafiz Ibnu Hajar mengadakan walimah besar-besaran pada 8 Sya’ban 842 H. Dalam acara tersebut dibacakanlah bab akhir dari Fathul Bari, dan walimah itu dihadiri oleh para pejabat, para ulama’, penuntut ilmu, dan kaum muslimin yang tak terhitung banyaknya.

Seorang muridnya, Al Biqo’i (w 885 H) bercerita : “Sampai-sampai aku mengira tidak ada seorang tokohpun di Mesir yang tidak hadir pada walimah tersebut. Hari itu adalah hari istimewa, belum ada yang sepertinya pada jaman itu. Pada walimah tersebut dilantunkan syair-syair indah berisi pujian kepada penulis dan kitabnya”.

Keunggulan Fathul Bari diakui oleh Imam asy-Syaukani (w 1250 H), ketika mengomentari kitab Fathul Bari asy-Syaukani mengutip hadis yang terkenal : “La hijrah ba’dal Fath”, hadis tersebut diungkapkan beliau sebagai kalimat diplomasi, yang maksudnya tidak ada kitab syarah Shahih Bukhori yang dapat melebihi keunggulan dan kebaikan yang sebaik Fathul Bari.

Sementara Ibnu Khaldun dalam kitab Mukadimmah-nya mengatakan bahwa tugas mensyarah Shahih Bukhori adalah ‘hutang umat Islam’. Perkataan tersebut diucapkan Ibnu Khaldun sebelum Ibnu Hajar menyusun Fathul Bari (Ibnu Khaldun wafat tahun 808 H, Ibnu Hajar mulai menulis Fathul Bari tahun 817 H), maka dengan kitab Fathul Bari dapat dikatakan bahwa Ibnu Hajar telah melunasi hutang umat Islam.

Semoga Allah Ta’ala merahmati al-Hafiz Ibnu Hajar Asqolani, menerima amalan yang dilakukannya, dan membalas dengan surga Firdaus-Nya..

(Diringkas dari majalah Al-Furqon edisi 10/8 tahun 1430 H, dengan beberapa tambahan dari penulis)

Syarah Hadith Arbain oleh Syaikh Uthaimin : Muqaddimah

Februari 2, 2012 § Tinggalkan komen

MUQADDIMAH PENSYARAH

(Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin )

Segala puji hanya inilik Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan serta ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dan keburukan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Shalawat dan salam yang melimpah semoga senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga dan para Sahabat beliau.

Amma ba’d:

Imam an-Nawawi termasuk salah seorang murid senior Imam asy-Syafi’i yang pendapat-pendapatnya dianggap mewakili madzhab Syafi’i. Beliau juga termasuk di antara ulama madzhab Syafi’i yang memiliki karya tulis paling banyak. Beliau telah menulis karya-karya dalam disiplin ilmu agama yang sangat banyak, di antaranya dalam bidang hadits dan ilmu pengantarnya (ulumul hadits). Dalam ilmu bahasa beliau menulis kitab yang sangat terkenal, yaitu Tabdziibid Asmaa’ wal Lughaat.

Dengan banyaknya karya tulis beliau yang sangat bermutu, tepat sekali jika beliau dikategorikan ke dalam kelompok ulama yang handal keilmuannya. Nampak pula dan kepribadian beliau —wallaahu a’lam—, bahwa beliau sangat ikhlas dalam menyusun karya tulis. Hal ini terlihat dan tersebarnya karya-karya beliau ke seluruh negeri Islam.

Kitab Riyadhush Shaalihiin (salah satu karya beliau), sering dibahas di hampir seluruh masjid yang ada di muka bumi ini. Kitab-kitab beliau sangat terkenal dan tersebar di seluruh penjuru dunia, hal ini menunjukkan kejujuran niat beliau yang hanya mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala semata. Karena sesungguhnya penerimaan manusia terhadap kitab-kitab karya seorang ulama termasuk salah satu tanda atas keikhlasan niatnya.

Beliau adalah seorang mujtahid (ulama yang pendapat-pendapatnya memenuhi syarat untuk diikuti), dan seorang mujtahid (karena ia seorang manusia) memungkinkan untuk keliru atau benar. Beliau pun tidak terlepas dan hal itu, di mana beliau telah keliru dalam masalah Nama-Nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. Dalam sebagian kitabnya ditemukan adanya penakwilan (pengubahan makna sebenarnya yang terkandung dalam Nama-Nama dan sifat-sifat Allah), akan tetapi beliau tidak mengingkari keberadaan Nama-Nama dan sifat-sifat tersebut. Sebagai contoh adalah tentang sifat istiwa’nya Allah di atas ‘Arys.

Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaahaa: 5)

Para ahli takwil mengatakan, “Maknanya adalah (menguasai dan mengalahkan ‘Arsy), akan tetapi mereka tidak mengingkari bahwa Allah Ta’ala bersemayam. karena jika mereka mengingkari kabar bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy sebagai bentuk pendustaan, niscaya mereka menjadi orang yang kafir. Adapun orang yang sebatas menakwilkan dan dirinya tidak mengingkari keberadaanya, dan penakwilan tersebut dibenarkan secara bahasa, maka yang demikian tidak sampai kepada derajat kekafiran.

Akan tetapi jika pemaknaan tersebut tidak dapat dibenarkan secara bahasa, maka ketika itu pengkafiran terhadap pelakunya dibenarkan, seperti perkataan seseorang, “Allah itu tidak mempunyai tangan secara nyata, tidak pula tangan yang bermakna nikmat dan kekuatan” [para penakwil mengartikan ayat-ayat tentang ‘tangan’ seperti itu]. Jika perkataan dan keyakinan orang tersebut seperti ini, maka dia kafir, karena dia telah menolak sifat Allah dengan penolakan yang mutlak. Dan sebutan kafir tidak berlaku bagi orang yang membenarkan keberadaannya namun ia menakwilkannya.

Masalah seperti ini terjadi pada beliau di mana beliau telah keliru dalam menakwilkan sebagian ayat sifat. Kekeliruan beliau ini tidaklah nampak dikarenakan banyaknya keutamaan beliau dan manfaat yang beliau berikan kepada umat Islam. Tidaklah kita berprasangka dengan kekeliruan tersebut melainkan hal itu berdasarkan ijtihad dan takwil yang dibenarkan -menurut pandangan beliau-.

Dan saya memohon kepada Allah agar kekeliruan ini termasuk kekeliruan yang diampuni, juga menjadikan kebaikan serta manfaat yang beliau persembahkan ini termasuk upaya yang patut disyukuri (dibalas oleh Allah dengan balasan yang banyak), dan menjadikannya sebagaimana firman Allah Ta’ala,

SesungguJmya perbuatan-perbuatan yang baik itu men ghapuskan (dosa)perbuatan-perbuatan yang buruk…” (QS. Huud: 114)

Kita bersaksi atas Imam Nawawi dan apa yang kita ketahui tentang keshalihan beliau, dan bahwa beliau termasuk seorang mujtahid, yang mana setiap mujtahid bisa saja benar atau malah sebaliknya. Jika keliru maka ia mendapatkan satu pahala, dan jika benar maka ia mendapatkan dua pahala [sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah].

Beliau telah menyusun banyak karya tulis, dan di antara karya tulis beliau yang paling baik adalah kitab in yaitu al-Arba’iin an-Nawawiyyah. Dan sebenarnya hadits yang tercantum di dalamnya bukan empat puluh, tetapi empat puluh dua, hal itu karena kebiasaan bangsa Arab yang selalu membuang pecahan jumlah, sehingga mereka menggenapkannya menjadi empat puluh, meskipun jumlahnya lebih atau kurang dan itu, baik satu atau dua.

Sangatlah patut bagi para penuntut ilmu untuk menghafalkan kumpulan empat puluh hadits ini karena ia merupakan intisari dan sekian banyak hadits yang terbagi dalam banyak bab yang bermacam-macam. Berbeda dengan karya-karya tulis lainnya, seperti kitab ‘Umdatul Ahkaam, kita mendapatinya sebagai kitab intisari, akan tetapi hanya dalam satu bab saja, yaitu bab Fiqih. Adapun kitab ini (al-A rba’uun an-Nawawiyyah), di dalamnya terkandung bab (pembahasan) yang berbeda-beda dan bermacam-macam (Aqidah, Fiqih, Mu’amalah dan Akhlak).

Dan kami memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam menjelaskan kandungan kitab ini. Hanya Allah-lah Pemberi petunjuk.

beli di galeriniaga.

Syarah Hadis 40 oleh Ustaz Yazid Jawas

Januari 31, 2012 § 2 Komen

Syarah Arba’in An-Nawawi

Imam an-Nawawi , siapa yang tidak kenal dengan sosok ulama yang sangat tekun menuntut ilmu dan banyak meninggalkan karya tulis bermutu mi? Kepakarannya di bidang hadits tidak ada yang meragukan. Salah satu karyanya yang sering dibaca, dipelajari, dan ditelaah para ulama adalah al-Arba’in an-Nawawiyyah, kitab yang memuat empat puluhan hadits pilihan yang mengandung jawaami’ul kalim (perkataan ringkas namun luas dan padat maknanya). Maka, tidak heran apabila banyak ulama sepeninggalnya seakan berlomba-lomba dalam menulis syarah (penjelasan) terhadap kandungan hadits-hadits di dalamnya. mi menandakan keberkahan ilmu beliau, yang merupakan buah dan keikhlasannya. Sekaligus juga, betapa penting dan bermanfaatnya kitab itu bagi umat.

Buku mi termasuk salah satu upaya baik penulisnya untuk ikut andil dalam mempopulerkan kitab Imam an-Nawawi tersebut, sebagaimana dilakukan para ulama terdahulu. Dalam buku ini penulis memberi judul pada setiap hadits, men-takhrij dan menjelaskan kedudukannya masing-masing, mensyarahnya satu per satu, bahkan menerangkan kaidah-kaidah beserta faedah-faedah tiap-tiap hadits itu yang disimpulkan oleh para ulama dan masyayikh (syaikh), serta tidak lupa mencantumkan referensi-referensinya. Demikianlah nilai keunggulan buku ini.

Melalui buku ini, kiranya umat Islam dapat mengambil pelajaran yang berharga dan 42 pesan Rasulullah , yang berbentuk sabda di dalamnya, untuk kemudian mengamalkan perintah-perintah beliau tersebut, dan dengan itu pula diharapkan larangan-larangan beliau akan ditinggalkan dengan sendirinya.

Amma ba’du,

Empat puluh dua hadits yang dikumpulkan oleh Imam an-Nawawi ini memiliki kedudukan yang agung, karena semua itu merupakan sabda-sabda Rasulullah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kaum Muslimin. Allah telah memberikan karunia kepada Rasulullah jawaami’ul kalim (perkataan ringkas memiliki makna yang padat dan luas).

Nabi bersabda:

“Aku diberikan pembuka perkataan (kefasihan), perkataan ringkas namun maknanya padat dan luas, dan penutup perkataan (Bagus dalam menyambung perkataan dan pada saat berhentinya.).”

(Mushannaf lbnu Abi Syaibah (no. 3012), dan MusnadAbi Ya’la (no. 7202). Lihat Silsilah al-A haadiits ash-Shahiihah (no. 1483) dan ShahiihJaami’us Shaghiir (no. 1058)).

Setiap hadits dalam Arba’iin an-Nawawiyyah ini mengandung ilmu yang bermanfaat, serta kaidah-kaidah agama, dan faidah-faidah yang sangat agung. Barang siapa yang diberikan oleh Allah Ta’ala taufiq untuk menghafalnya dan memahaminya, maka ia telah mendapatkan bagian yang sangat banyak dan warisan para Nabi ini, juga ia mampu untuk menguasai beberapa perkara agamanya.

Kaum Muslimin yang dahulu maupun sekarang memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hadits Arba’iin in baik dan segi hafalan maupun kurikulum di ma’had-ma’had, pondok-pondok pesantren, dan sekolah-sekolah Islam. Bahkan, para ulama terdahulu dan sekarang telah banyak mengajarkan dan menjelaskan hadits-hadits ini kepada umat Islam dan mereka juga telah men-syarah (menjelaskan) hadits Arba’iin ini, di antara mereka adalah:

1. Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H), yang sekaligus sebagai penulis dan hadits Arba’iin.
2. Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied (wafat th. 702 H).
3. Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H), dalam kitabnya Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam.
4. Imam Ibnul Mulaqqin (wafat th. 804 H).
5. Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di is (wafat th. 1376 H).
6. Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi (wafat th. 1163 H).
7. Dr. Musthafa al-Bugha dan Mukyiddin Mistu
8. Nazhim Muhammad Sulthan.
9. Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin (wafat th. 1421 H).
10. Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah.
11. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.
12. Syaikh Shalih Alu Syaikh haftzhabullah.
13. Dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini.

Alhamdulillah, Allah telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengajarkan hadits Arba’iin ini kepada para penuntut ilmu. Di saat saya mengajarkan hadits-hadits ini, saya mendapati banyak sekali faidah yang besar dan saya ingin menyusunnya dalam sebuah buku, agar manfaatnya tersebar luas di kalangan kaum Muslimin. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu saya sudah turut serta memberikan sumbangsih dalam dunia tulis-menulis, yang mana itu merupakan dunia yang penuh manfaat dalam penyebaran ilmu agama, serta sebagai ajang meraih pahala di dunia dan akhirat.

Para pembaca yang mudah-mudahan dirahmati Allah, perlu diketahui bahwa dalam penyusunan buku ini saya banyak mengambil faidah dan penjelasan para ulama, dan saya banyak menukil perkataan mereka secara tekstual. Hal itu dikarenakan saya masih berada di awal perjalanan saya dalam menuntut ilmu dan sudah sepantasnya bagi pemula untuk mengikuti jalan para ulama yang sudah lebih dulu berkecimpung dalam mendalami ilmu syar’i. Hal itu dikarenakan dalam memahami agama mi harus mengambil dan para ulama yang kuat ilmunya, banyak hafalannya, pemahamannya mendalam terhadap nash-nash al-Qur-an dan hadits sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih yang telah mendapatkan sanjungan dan pujian dan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Adapun metode penyusunan buku mi adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan kedudukan setiap hadits menurut para ulama ahli hadits, terutama saya banyak mengambil dan kitab-kitab ahli hadits pada abad 15 H/20 M, yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
2. Memberikan judul di setiap masalah yang dikandung hadits tersebut dan menjelaskannya.
3. Menyebutkan kaidah-kaidah dan faidah-faidah hadits yang disimpulkan oleh para ulama dan para masyayikh.

Akhirnya, apa yang saya susun ini adalah tulisan dan syarab hadits yang penulis susun beberapa tahun dan sudah dimuat setiap bulan di majalah As-Sunnah, penulis tambah keterangan dan syarabnya (penjelasannya) dan kitab-kitab ulama terdahulu dan sekarang.

Mudah-mudahan apa yang saya susun mi bermanfaat bagi din saya dan kaum Muslimin pada umumnya, mudah-mudahan amal ini ikhlas karena Allah Ta’ala dan mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran kepada saya di dunia maupun di akhirat, dan mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran juga kepada orang-orang yang ikut andil dalam menyelesaikan buku ini dan menerbitkannya, juga kepada para pembaca yang mengamalkannya dengan ikhlas karena Allah Ta’ala dan mengikuti contoh Nabi.

Semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad keluarganya, para Sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga akhir zaman. Dan akhir do’a kami adalah Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.

Bogor, Rabi’ul Awwal 1432 H
Februari 2011 M
Penulis,
Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Abu Fat-hi)

dipetik dari buku Syarah Hadis 40, terbitan Pustaka Imam Syafii.

beli di galeriniaga.

Syarah Hadis Arbain Imam Nawawi

Januari 25, 2012 § 1 Komen

Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi

Muqaddimah Pengarang

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb seluruh alam, Pengatur langit dan bumi, Pemelihara seluruh makhluk, dan Pengutus seluruh rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim kepada seluruh mukallaf untuk memberi petunjuk kepada nereka, menjelaskan ajaran-ajaran syariat agama dengan dalil-dalil yang pasti dan bukti-bukti yang jelas. Saya memuji-Nya atas segala nikmat yang Dia limpahkan, dan saya memohon tambahan keutamaan dan karunia-Nya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa, Yang Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba, utusan, kekasih, dan kesavangan-Nya, makhluk-Nya yang paling utama, yang dimuliakan dengan Al-Qur’an Al-’Aziz yang menjadi mukjizat sepanjang masa, dan dengan sunnah-sunnah yang menyinari orang-orang yang mencari petunjuk, yang diberi kekhususan dengan jawami’ul-kalim (ungkapan yang singkat, tetapi makna padat) dan agama yang mudah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada seluruh nabi dan rasul, seluruh keluarga mereka, dan segenap orang-orang shalih.

Amma ba’du,

Kami telah meriwayatkan dari ‘Ali ibnu Abi Thalib, ‘Abdullah ibnu Mas’ud, Mu’adz ibnu Jabal, Abu Ad-Darda’, Ibnu ‘Umar, lbnu ‘Abbas, Anas ibnu Malik, Abu Hurairah, dan Abu Sa’id Al-Khudri dari banyak jalur dengan riwayat yang beragam bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa dan umatku menghafal empat puluh hadits urusan agamanya, Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat kelak termasuk dalam golongan para fuqaha’ (ahli fiqih) dan ulama (ahli ilmu).”

(Hadits ni tidak shahih meskipun mempunyai jalur yang banyak dan sudah sang terkenal. Dalam Al-’Ilal AI-Mutanahiyah (1/119), setelah mengumpukan jalur-jalurnya IbnuAl-Jauzi berkata, “Ini adalah hadits yang tidak shahih dari Rasulullah . Lihat Kasy Al-Khafa’karya Al-Ajluni (2465)).

Dalam sebuah riwayat lain:

“Allah akan membangkitkannya sebagai orang faqih dan ‘alim.”

Dalam riwayat Abu Ad-Darda’:

“Dan aku menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya pada hari kiamat.”

Dalam riwayat Ibnu Mas’ud :

“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kesurga dan pintu mana saja yang kamu suka.”

Dalam riwayat Ibnu ‘Umar:

“Ditulis dalam golongan ulama dan dikumpulkan dalam golongan syuhada.”

Para huffazh (ulama ahli hadits) telah sepakat bahwa ini adalah hadits dha’if (lemah) sekalipun mempunyai jalur yang banyak.

Dalam masalah ini para ulama telah menyusun karya yang tidak terhitung jumlahnya. Orang pertama kali yang saya ketahui menyusun karya dalam masalah ini adalah ‘Abdullah Ibnu Al-Mubarak. Kemudian Muhammad ibnu Aslam AthThusi seorang alim rabbani, lalu Al-Hasan ibnu Sufyan An-Nasa’i, Abu Bakr Al-Ajurri, Abu Bakr Muhammad ibnu Ibrahim Al-Ashfahani, Ad-Daruquthni, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Abu Abdirrahman As-Sulami, Abu Sa’id Al-Malini, Abu ‘Utsman ash-Shabuni, ‘Abduliah ibnu Muhammad Al-Anshari, Abu Bakr Al-Baihaqi, dan sejumlah ulama lain yang tidak terhitung jumlahnya baik dan kalangan orang-orang terdahulu (mutaqaddimin) maupun yang sekarang (muta’akhkhirin).

Saya telah melakukan istikharah kepada Allah Ta’ala dan mengumpulkan empat puiuh hadits ini karena meneladani imam terkenal dan para penghafal hadits dalam Islam. Para ulama telah bersepakat tentang bolehnya mengamalkan hadits dha’if dalam perkara fadha’il a’mal (keutamaan amal).

Sekalipun demikian, yang menjadi sandaran saya bukanlah hadis ini tetapi sabda beliau dalam hadits-hadits yang shahih:

“Hendaknya orang yang menyaksikan di antara kalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”

Juga sabda beliau :

“Semoga Allah membaguskan wajah seseorang yang mendengar ucapanku, kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar.”

(Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Zaid ibnu Tsabit (3660), At-Tirmidzi (2656), Ibnu Majah (230), Ahmad (5/183), Ad-Darimi (1/65), dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban (72, 73 – Al-Ibsan). Dalam hal ini juga terdapat hadits dari Jubair ibnu Muth’im yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (231) dan Ahmad (4/80-82), dan Abu Said AI-Khudri yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam AI-HiIyah (5/105), dan Anas ibnu Malik yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (236), dan dari Mu’adz yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hiiyah (9/308)).

Selanjutnya, di antara para ulama ada yang mengumpulkan empat puluh hadits dalam masalah ushuluddin (dasar-dasar agama), yang lain dalam masalah furu’ (cabang), yang lain dalam masalah jihad, yang lain dalam masalah zuhud, yang lain dalam masalah adab, dan yang lain dalam masalah khutbah. Semuanya mempunyai maksud yang baik. Semoga Allah meridhai mereka.

Adapun saya berusaha mengumpulkan empat puluh buah hadits yang lebih penting dan semua ini, yaitu empat puluh buah hadits yang mencakup semua permasalahan tersebut. Setiap hadits merupakan kaidah yang agung di antara kaidah-kaidah agama ini, yang oleh para ulama disebutkan bahwa agama Islam ini berkisar padanya, atau setengah agama Islam, atau sepertiganya, atau seperti itu [berkisar padanya].

Saya juga berketetapan bahwa empat puluh buah hadits ini semuanya shahih, dan sebagian besar dari nya terdapat dalam dua kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Saya sebutkan hadits-hadits ini tanpa sanadnya agar mudah dihafal dan memberikan manfaat yang menyeluruh insya Allah Ta’ala. Saya juga menyertakan satu bab tentang penjelasan lafaz-lafaz yang masih samar.

Setiap orang yang menghendaki akhirat seyogianya mengetahui hadits-hadits ini mengingat hadits-hadits ini mengandung pelbagai perkara penting dan mencakup peringatan terhadap segala bentuk ibadah ketaatan. Itu semua tampak jelas bagi orang yang mau merenungkannya. Hanya kepada AllahIah saya bersandar, berserah diri, dan bergantung. Hanya bagiNya-Iah segala puji dan nikmat, dan hanya Dia-lah yang mampu memberi taufik dan perlindungan.

Imam Nawawi

Sumber :

Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi, Ta’liq oleh Syaikh Uthaimin, terjemahan Ahmad S Marzuqi, Media Hidayah-Jakarta, 2006.

BELI DI GALERINIAGA.

Pujian Ulama Terhadap Kitab Fathul Bari

Mei 9, 2011 § Tinggalkan komen

Al-Hafiz Ibnu Hajar Asqalani menulis kitab “Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori” selama 25 tahun lebih (!!). Beliau memulai pada awal tahun 817 H dan selesai pada awal bulan Rojab tahun 842 H.
Al-Hafiz Ibnu Hajar yang pernah berguru dengan ulama besar seperti Ibnul Mulaqqin dan al-Iraqi (al-Iraqi lah yang pertama menggelari beliau dengan gelar ‘al-Hafiz’), menempuh metode menakjubkan dalam mengarang kitab Fathul Bari. Awalnya melalui imla’ (lisan) selama 5 tahun, kemudian beberapa muridnya yang cerdas berkumpul dan mengusulkan agar syarah tersebut dibukukan. Ibnu Hajar kemudian menyetujui usulan muridnya dan beliau menulis dengan tangannya sendiri sedikit demi sedikit, sehingga kitabnya telah dikoreksi dan diteliti secara jeli.

Tatkala kitab syarah al-Bukhori tersebut selesai, al-Hafiz Ibnu Hajar mengadakan walimah besar-besaran pada 8 Sya’ban 842 H. Dalam acara tersebut dibacakanlah bab akhir dari Fathul Bari, dan walimah itu dihadiri oleh para pejabat, para ulama’, penuntut ilmu, dan kaum muslimin yang tak terhitung banyaknya. Seorang muridnya, Al Biqo’i (w 885 H) bercerita : “Sampai-sampai aku mengira tidak ada seorang tokohpun di Mesir yang tidak hadir pada walimah tersebut. Hari itu adalah hari istimewa, belum ada yang sepertinya pada jaman itu. Pada walimah tersebut dilantunkan syair-syair indah berisi pujian kepada penulis dan kitabnya”.

Keunggulan Fathul Bari diakui oleh Imam asy-Syaukani (w 1250 H), ketika mengomentari kitab Fathul Bari asy-Syaukani mengutip hadis yang terkenal : “La hijrah ba’dal Fath”, hadis tersebut diungkapkan beliau sebagai kalimat diplomasi, yang maksudnya tidak ada kitab syarah Shahih Bukhori yang dapat melebihi keunggulan dan kebaikan yang sebaik Fathul Bari. Sementara Ibnu Khaldun dalam kitab Mukadimmah-nya mengatakan bahwa tugas mensyarah Shahih Bukhori adalah ‘hutang umat Islam’. Perkataan tersebut diucapkan Ibnu Khaldun sebelum Ibnu Hajar menyusun Fathul Bari (Ibnu Khaldun wafat tahun 808 H, Ibnu Hajar mulai menulis Fathul Bari tahun 817 H), maka dengan kitab Fathul Bari dapat dikatakan bahwa Ibnu Hajar telah melunasi hutang umat Islam.

Semoga Allah Ta’ala merahmati al-Hafiz Ibnu Hajar Asqolani, menerima amalan yang dilakukannya, dan membalas dengan surga Firdaus-Nya..

(Diringkas dari majalah Al-Furqon edisi 10/8 tahun 1430 H, dengan beberapa tambahan dari penulis) Sumber

Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari rebiu Pustaka Imam Syafii

Mei 9, 2011 § 7 Komen

dipetik dari laman Pustaka Imam Asy-Syafi‘i.

Di antara keistimewaan kitab Fat-hul Baari adalah sebagai berikut:

1. Matan kitab ini, yaitu Shahiihul Bukhari, telah diterima oleh semua kalangan umat Islam

Kitab ini mendapatkan sambutan paling positif dari semua kalangan umat Islam, terutama yang bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Lebih dari itu, mereka menyebutnya kitab yang paling sahih setelah al-Qur-an . Sebagai kitab yang diterima oleh semua kalangan, bahkan diunggulkan daripada kitab-kitab hadis lain, tentu syarahnya sangat diperlukan untuk dapat memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya secara benar dan mendalam. Dan syarah terbaik kitab Sahiihul Bukhari ini menurut hemat kami, serta yang paling masyhur dan dijadikan rujukan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, adalah kitab Fat-hul Baari. Di samping itu, sudah menjadi komitmen kami, Pustaka Imam asy-Syafi’i, sebagai penerbit penebar sunnah untuk menerbitkan kitab-kitab sunnah, lebih-lebih kitab Fat-hul Baari yang merupakan kitab rujukan utama umat Islam dalam bidang hadis karena isinya yang sangat baik dan banyak memberikan manfaat bagi mereka.

2. Fat-hul Baari adalah kitab hadis monumental

Dikatakan demikian kerana kitab ini menggabungkan dua karya monumental dalam bidang hadis, berupa matan dan syarahnya. Yang pertama adalah Shahiihul Bukhari, yaitu kitab induknya; dan yang kedua adalah syarahnya, yaitu Fat-hul Baari itu sendiri. Fat-hul Baari tergolong kitab paling paripurna dalam syarah hadis sehingga segala hal berkaitan dengan syarah hadis hampir semuanya didapatkan di sini. Oleh karena itu, tidak menghairankan jika para ulama mengatakan: “Laa hijrata ba’dal Fathi,” yang maknanya: Tidak perlu hijrah (beralih ke kitab lain) selama ada Fat-hul Baari. Para ulama setelahnya banyak mengutip perkataan Ibnu Hajar dalam penulisan kitab-kitab mereka dan menjadikannya sebagai rujukan ilmiah.

3. Penulisnya ulama yang ulung di bidangnya

Kitab Fat-hul Baari ini mempertemukan dua ulama ulung di bidang hadis nabawi, dan keilmuan keduanya telah diakui oleh semua kalangan umat Islam. Yang pertama adalah Imam al-Bukhari, yang digelari dengan Amirul Mukminin dalam bidang hadis; dan yang kedua adalah Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, yang digelari al-Hafizh. Gelar al-hafizh bagi seorang ahli hadits hanya disematkan kepada yang mampu menghafal 100.000 hadits, baik sanad maupun matannya. Gelar ini diberikan kepada Ibnu Hajar oleh gurunya, al-Hafizh al-‘Iraqi, seorang syaikh (ulama besar) yang ahli dalam bidang hadits.

Selain itu, Ibnu Hajar termasuk penulis produktif dan hasil-hasil karyanya pun banyak diminati dan dikagumi oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Di antara karya-karya besar beliau adalah Fat-hul Baari: Syarh Shahiihil Bukhari, Buluughul Maraam min Adillatil Ahkaam, Tahdziibut Tahdziib, al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah, dan lain-lain.

Di samping itu, banyak ulama yang menyanjung kepakaran beliau.

Al-Hafizh as-Sakhawi berkomentar: “Mengenai pujian ulama terhadap Ibnu Hajar, sudah tidak terhitung lagi banyaknya.”

Al-‘Iraqi memberikan pujian: “Ibnu Hajar adalah seorang syaikh yang ‘alim (berilmu luas), sempurna pemahamannya, berakhlak mulia, muhaddis (ahli hadis), banyak memberikan manfaat kepada umat, susuk yang agung, al-Hafizh, sangat bertakwa, dhabith (kuat hafalannya), siqah (dapat dijadikan hujjah), amanah (dapat dipercaya), mampu membedakan antara perawi-perawi yang tsiqah (tepercaya) dan yang dha‘if (lemah), banyak menemui para ahli hadis, dan dapat menguasai banyak cabang ilmu dalam waktu yang relatif pendek.”

4. Fat-hul Baari Adalah kitab syarah hadis yang paling lengkap dan sempurna

Kitab syarah atau penjelasan kitab Shahiihul Bukhari ini tergolong kitab syarah yang paling sempurna karena kemampuannya dalam menyajikan dan menerangkan banyak hal. Mulai dari pembahasan masalah yang ditinjau dari ilmu bahasa: definisi masing-masing istilah secara lughawi (etimologi) dan syar’i (terminologi), perbandingan redaksi riwayat-riwayat, penjelasan kaidah ushul fiqih, pengungkapan keterangan ilmu hadits: sanad dan matannya, hingga pelajaran penting dan hikmah hadits nabawi; serta, pembahasan hal-hal yang terkait lainnya. Oleh karena itulah, kitab Fat-hul Baari ini sering kali dijadikan sebagai bahan rujukan atau sumber referensi oleh para penulis Muslim, khususnya terkait dengan makna-makna hadis yang tertulis dalam kitab Shahiihul Bukhari. Tidak ada yang mampu menandingi kitab syarah ini. Memang, ada kitab syarah Shahiihul Bukhari lain berjudul Umdatul Qaari’ yang ditulis oleh al-Badrul ‘Aini; setelah terbitnya kitab ini. Akan tetapi, ketenaran kitab syarah tersebut masih kalah jauh dibandingkan dengan kemasyhuran kitab Fat-hul Baari.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, kami merasa terpanggil untuk menerbitkan dan menyuguhkan kitab syarah ini ke hadapan umat Islam, tidak lain agar manfaatnya dapat dipetik sebanyak-banyaknya oleh mereka. Maka terbitlah terjemahannya seperti yang pembaca lihat sekarang, dengan judul Fathul Bari: Syarah Shahih al-Bukhari.

B. SPESIFIKASI TERBITAN BUKU TERJEMAHAN

1. Terbit secara utuh

Penting untuk diketahui bahwa buku Fathul Bari ini kami terbitkan seperti kitab aslinya, diterjemahkan apa adanya dan tanpa menghilangkan atau mengurangi sebagian teks Arabnya, baik pada sanad atau matan hadits serta syarahnya. Termasuk dalam hal ini penulisan nomor bab pada matan kitab Shahiihul Bukhari, yang sebagiannya dimunculkan oleh penulisnya dan sebagiannya tidak. Kami sengaja ingin menampilkan terjemahan kitab Fat-hul Baari secara utuh serta kami pun mempersilakan pembaca untuk memilih sendiri sisi mana yang lebih bermanfaat dan mana yang lebih mereka perlukan dari pembahasan-pembahasan dalam buku ini. Kerana sesungguhnya semua sisi kebaikan, insya Allah, ada pada buku ini.

2. Penyertaan glosarium hadis dan nahwu-sharaf

Pada terbitan buku terjemahan ini, kami menyertakan glosarium untuk memudahkan pembaca dalam memahami kata-kata asing yang bertebaran di sela-sela pembahasan bab-babnya. Kata-kata tersebut, baik berkaitan dengan istilah-istilah kebahasaan, yaitu nahwu dan sharaf; istilah-istilah sastra dalam ilmu balaghah, seperti ma’ani dan tasybih; maupun istilah-istilah lain yang berkaitan dengan hadis beserta musthalahnya dan fiqih beserta ushulnya, seperti, munqathi’, maushul, sanad, mansukh, nasikh, mafhum mukhalafah dan lain-lain.

3. Pertimbangan jilid berdasarkan tema kitab

Demi memudahkan pembaca yang hendak mengoleksi buku ini, tanpa khawatir akan terpotongnya suatu pembahasan, kami pun menerbitkan terjemahannya secara berseri dan berjilid berdasarkan tema besar yang disebut Kitab; misalnya jilid 1 Kitab Wahyu dan Iman, jilid 2 Kitab Thaharah, Kitab Mandi, dan lain-lain.

Akhir kata, kami merasa amat bersyukur bisa menerbitkan terjemahan kitab Fat-hul Baari ini. Kami juga ingin menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang memberikan kontribusi dalam proses terbitnya buku ini. Semoga Allah membalas amal-amal baik mereka semua, dan juga kita. Tidak lupa pula, kami meminta maaf jika di antara pembaca ada yang menemukan kekeliruan yang tidak sengaja kami lakukan terkait dengan terjemahan dan penerbitannya. Khusus dalam hal yang terakhir, perlu diketahui bahwa kami selalu membuka diri untuk menerima saran dan kritik demi mewujudkan cetakan berikutnya yang lebih baik.

Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu’alaihi wasallam, juga kepada keluarga dan seluruh Sahabatnya, serta kepada orang-orang yang setia mengikuti sunnah beliau hingga hari Kiamat. Amin.

Harga Jualan : RM 80.00 (setiap jilid)

Diskaun 15%

Harga Selepas Diskaun : RM 68.00

Kos bungkusan dan penghantaran : PERCUMA untuk pembelian melebihi RM100 selepas diskaun)

Untuk maklumat detil tulis emel kepada kami di riduankhairi.enterprise@gmail.com

Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari : rebiu

Mei 6, 2011 § 1 Komen

Al Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim

Memanfaatkan usia sehat dan karunia waktu yang Allah berikan dengan mempelajari ilmu-ilmu syariat yang bersumber dari manusia terbaik dengan kesungguhan dan totalitas merupakan aktivitas yang utama. Adalah Al-Imam Abu Abdillah Al-Bukhari, seorang imam yang telah mencuplik secercah cahaya Al-Kitab dan As-Sunnah yang kemudian beliau kumpulkan di dalam kitabnya Shahih Al-Jami’ yang kemudian populer dengan Shahih Al-Bukhari.

Memahami kitab ini akan lebih sempurna dan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya bila dilengkapi dengan kitab-kitab yang menjelaskan maksud-maksud, faidah-faidah, kaidah-kaidah yang dipakai penulis, uslub (gaya bahasa) penulisan dan lain sebagainya. Terlebih kitab Shahih Al-Bukhari bisa diibaratkan makanan setengah matang. Karena di dalamnya terdapat hadits-hadits yang nasikhdan mansukh, umum dan khusus sehingga membutuhkan keterangan ulama yang memang ahli di banyak bidang ilmu syariat.

Dengan metode ini, syariat yang dibawa oleh Rasulullah yang bersifat rahmatan lil ‘alamin dan shalih (cocok) untuk segala jaman dan tempat, dapat tersebar. Bukan sekedar kitab yang sulit diaplikasikan di alam nyata. Nampaknya pesan inilah yang hendak disampaikan oleh Ahmad Bin ‘Ali Bin Muhammad Bin Muhammad Bin ‘Ali Al-Asqalani.

Beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang ahli hadits, mufti dan hakim agung di Mesir. Kitab syarah (penjelasan) Shahih Al-Bukhari hasil tulisannya merupakan kitab syarah Shahih Al-Bukhari terbagus dari sekian kitabsyarah lainnya dan dianggap mahkota karya-karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mencapai 150 judul baik yang besar maupun yang kecil.

Penulis kitab Kasyfuz Zhunun, Musthafa Bin Abdullah Al-Qisthanthini Ar-Rumi seorang ‘Alim bermahdzab Hanafi (wafat tahun 1067 M) menyebutkan, “Kitab syarah Al-Bukhari yang paling agung adalah kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari[1] karya Ibnu Hajar. Mukadimahnya mencakup 10 pasal yang ia namakan Hadyus Sari. Keistimewaan, keajaiban, dan kepopuleran kitabnya disebabkan cakupan faidah-faidah dan hukum-hukum fiqhiyyah yang sulit diilustrasikan. Terlebih pembahasan sisi sanad hadits sangat luas dan mendalam.”

Begitu menjiwai dan menjelaskan kitab Shahih Al-Bukhari menjadikan pembacanya seolah-olah melihat Ibnu Hajar yang bermahdzab Syafi’i, hidup sejaman dengan Al-Bukhari, duduk di depannya, mendengarkan pelajarannya, mendengar hadits lalu menyerap, mengetahui ilmu-ilmu, sanad-sanad yang shahih dan lemah, serta hikmah-hikmah hadits.

Asy-Syaikh Muqbil Rahimahullah dalam kitabnya Ijabatus Sail menganjurkan para pencari ilmu mempelajarinya. Meskipun kitab ini tidak dianjurkan dibaca bagi pencari ilmu yang pemula namun keberadaanya sangat penting karena dibutuhkan oleh ummat Islam dalam memahami As Sunnah sebagai jalan hidup mereka.

Sunnatullah berlaku, selain Al Qur’an tak ada satu kitab pun karya manusia yang sempurna. Demikian juga dengan Fathul Bari. Pembaca kitab ini mesti berhati-hati manakala menjumpai pembahasan nama-nama dan sifat-sifat Allah agar tidak terjerumus ke dalam metodologi takwil (menafsirkan tidak sesuai dengan teks lafadznya) yang diadopsi penulisnya dari kaidah Asy’ariyyah yang telah ditinggalkan oleh Abul Hasan Al Asy’ary si pencetusnya sendiri, yang tentunya tidak sesuai dengan manhaj salaf.

Wallahu a’lam

Catatan kaki:

[1] Dalam penukilan para Ulama, terkadang disebut secara ringkas dengan AL-FATHatau AL-FATHU

Judul Asli: “Fathul Bari Mahkota Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah”
Sumber: Majalah Asy Syariah halaman 48
Vol I/No.40/Desember 2003/Syawwal 1424 H

dipetik dari : http://ghuroba.blogsome.com/2007/12/01/kitab-fathul-bari-karya-ibnu-hajar-al-asqalani/

Where Am I?

You are currently browsing the Syarah hadis category at Kitab Hadith dan Syarah Hadith.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.