Syarah Hadis 40 oleh Ustaz Yazid Jawas

Januari 31, 2012 § 2 Komen

Syarah Arba’in An-Nawawi

Imam an-Nawawi , siapa yang tidak kenal dengan sosok ulama yang sangat tekun menuntut ilmu dan banyak meninggalkan karya tulis bermutu mi? Kepakarannya di bidang hadits tidak ada yang meragukan. Salah satu karyanya yang sering dibaca, dipelajari, dan ditelaah para ulama adalah al-Arba’in an-Nawawiyyah, kitab yang memuat empat puluhan hadits pilihan yang mengandung jawaami’ul kalim (perkataan ringkas namun luas dan padat maknanya). Maka, tidak heran apabila banyak ulama sepeninggalnya seakan berlomba-lomba dalam menulis syarah (penjelasan) terhadap kandungan hadits-hadits di dalamnya. mi menandakan keberkahan ilmu beliau, yang merupakan buah dan keikhlasannya. Sekaligus juga, betapa penting dan bermanfaatnya kitab itu bagi umat.

Buku mi termasuk salah satu upaya baik penulisnya untuk ikut andil dalam mempopulerkan kitab Imam an-Nawawi tersebut, sebagaimana dilakukan para ulama terdahulu. Dalam buku ini penulis memberi judul pada setiap hadits, men-takhrij dan menjelaskan kedudukannya masing-masing, mensyarahnya satu per satu, bahkan menerangkan kaidah-kaidah beserta faedah-faedah tiap-tiap hadits itu yang disimpulkan oleh para ulama dan masyayikh (syaikh), serta tidak lupa mencantumkan referensi-referensinya. Demikianlah nilai keunggulan buku ini.

Melalui buku ini, kiranya umat Islam dapat mengambil pelajaran yang berharga dan 42 pesan Rasulullah , yang berbentuk sabda di dalamnya, untuk kemudian mengamalkan perintah-perintah beliau tersebut, dan dengan itu pula diharapkan larangan-larangan beliau akan ditinggalkan dengan sendirinya.

Amma ba’du,

Empat puluh dua hadits yang dikumpulkan oleh Imam an-Nawawi ini memiliki kedudukan yang agung, karena semua itu merupakan sabda-sabda Rasulullah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kaum Muslimin. Allah telah memberikan karunia kepada Rasulullah jawaami’ul kalim (perkataan ringkas memiliki makna yang padat dan luas).

Nabi bersabda:

“Aku diberikan pembuka perkataan (kefasihan), perkataan ringkas namun maknanya padat dan luas, dan penutup perkataan (Bagus dalam menyambung perkataan dan pada saat berhentinya.).”

(Mushannaf lbnu Abi Syaibah (no. 3012), dan MusnadAbi Ya’la (no. 7202). Lihat Silsilah al-A haadiits ash-Shahiihah (no. 1483) dan ShahiihJaami’us Shaghiir (no. 1058)).

Setiap hadits dalam Arba’iin an-Nawawiyyah ini mengandung ilmu yang bermanfaat, serta kaidah-kaidah agama, dan faidah-faidah yang sangat agung. Barang siapa yang diberikan oleh Allah Ta’ala taufiq untuk menghafalnya dan memahaminya, maka ia telah mendapatkan bagian yang sangat banyak dan warisan para Nabi ini, juga ia mampu untuk menguasai beberapa perkara agamanya.

Kaum Muslimin yang dahulu maupun sekarang memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hadits Arba’iin in baik dan segi hafalan maupun kurikulum di ma’had-ma’had, pondok-pondok pesantren, dan sekolah-sekolah Islam. Bahkan, para ulama terdahulu dan sekarang telah banyak mengajarkan dan menjelaskan hadits-hadits ini kepada umat Islam dan mereka juga telah men-syarah (menjelaskan) hadits Arba’iin ini, di antara mereka adalah:

1. Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H), yang sekaligus sebagai penulis dan hadits Arba’iin.
2. Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied (wafat th. 702 H).
3. Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H), dalam kitabnya Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam.
4. Imam Ibnul Mulaqqin (wafat th. 804 H).
5. Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di is (wafat th. 1376 H).
6. Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi (wafat th. 1163 H).
7. Dr. Musthafa al-Bugha dan Mukyiddin Mistu
8. Nazhim Muhammad Sulthan.
9. Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin (wafat th. 1421 H).
10. Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah.
11. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.
12. Syaikh Shalih Alu Syaikh haftzhabullah.
13. Dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini.

Alhamdulillah, Allah telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengajarkan hadits Arba’iin ini kepada para penuntut ilmu. Di saat saya mengajarkan hadits-hadits ini, saya mendapati banyak sekali faidah yang besar dan saya ingin menyusunnya dalam sebuah buku, agar manfaatnya tersebar luas di kalangan kaum Muslimin. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu saya sudah turut serta memberikan sumbangsih dalam dunia tulis-menulis, yang mana itu merupakan dunia yang penuh manfaat dalam penyebaran ilmu agama, serta sebagai ajang meraih pahala di dunia dan akhirat.

Para pembaca yang mudah-mudahan dirahmati Allah, perlu diketahui bahwa dalam penyusunan buku ini saya banyak mengambil faidah dan penjelasan para ulama, dan saya banyak menukil perkataan mereka secara tekstual. Hal itu dikarenakan saya masih berada di awal perjalanan saya dalam menuntut ilmu dan sudah sepantasnya bagi pemula untuk mengikuti jalan para ulama yang sudah lebih dulu berkecimpung dalam mendalami ilmu syar’i. Hal itu dikarenakan dalam memahami agama mi harus mengambil dan para ulama yang kuat ilmunya, banyak hafalannya, pemahamannya mendalam terhadap nash-nash al-Qur-an dan hadits sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih yang telah mendapatkan sanjungan dan pujian dan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Adapun metode penyusunan buku mi adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan kedudukan setiap hadits menurut para ulama ahli hadits, terutama saya banyak mengambil dan kitab-kitab ahli hadits pada abad 15 H/20 M, yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
2. Memberikan judul di setiap masalah yang dikandung hadits tersebut dan menjelaskannya.
3. Menyebutkan kaidah-kaidah dan faidah-faidah hadits yang disimpulkan oleh para ulama dan para masyayikh.

Akhirnya, apa yang saya susun ini adalah tulisan dan syarab hadits yang penulis susun beberapa tahun dan sudah dimuat setiap bulan di majalah As-Sunnah, penulis tambah keterangan dan syarabnya (penjelasannya) dan kitab-kitab ulama terdahulu dan sekarang.

Mudah-mudahan apa yang saya susun mi bermanfaat bagi din saya dan kaum Muslimin pada umumnya, mudah-mudahan amal ini ikhlas karena Allah Ta’ala dan mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran kepada saya di dunia maupun di akhirat, dan mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran juga kepada orang-orang yang ikut andil dalam menyelesaikan buku ini dan menerbitkannya, juga kepada para pembaca yang mengamalkannya dengan ikhlas karena Allah Ta’ala dan mengikuti contoh Nabi.

Semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad keluarganya, para Sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga akhir zaman. Dan akhir do’a kami adalah Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.

Bogor, Rabi’ul Awwal 1432 H
Februari 2011 M
Penulis,
Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Abu Fat-hi)

dipetik dari buku Syarah Hadis 40, terbitan Pustaka Imam Syafii.

beli di galeriniaga.

BIOGRAFI IBNU DAQIIQ, Salah Seorang Pensyarah Arbain Nawawiyah

Januari 31, 2012 § Tinggalkan komen

BIOGRAFI IBNU DAQIIQ : NASAB DAN KELAHIRANNYA

Beliau adalah Imam Muhammad bin Ali bin Wahb, dikenal dengan sebutan Ibnu Daqiiq Al-’Ied. Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 625 H di dekat pantai laut merah.

ILMU DAN KEUTAMAAN BELIAU

Beliau mencari ilmu dan antusias terhadapnya. Beliau mengadakan rihlah (perjalanan) untuk menambah ilmunya. Beliau pergi ke Mesir untuk mendatangi ulama-ulamanya lalu pergi ke Damsyiq dan mendengarkan dan ulama-ulama yang lain.

Hingga pada gilirannya jadilah beliau sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Adz-Dzahabi:

“Beliau seorang Imam, ahli sastra, dermawan, ahli fikih dan ushulnya, ahli adab, nahwu, seorang yang cerdas, memiliki kejelian makna, sempurna akalnya di samping beliau juga memiliki karakter orang-orang yang dicintai oleh Allah. Parapakar sejarah menyebutkan bahwa beliau banyak diam, wara’, melazimi sunnah, sibuk dengan membaca dan menulis, lapang dada, dermawan, bersih jiwanya, menjaga ucapan dan menjauhi dakwa, sibuk dengan dirinya, sedikit bergaul padahal beliau memiliki dien yang kuat dan akal yang cemerlang. Beliau habiskan umurnya untuk menulis hadits, matan, rijal hadits, bahasa dan beliau memiliki kemampuan yang tinggi dalam masalah ushuluddien, ushul fikih, bahasa Arab dan adab. Beliau adalah guru para sastrawan dan simbol ulama di zamannya. Beliau juga pentahqiq dua madzhab, yakni Syafi’iyah dan Malikiyah”.

Ibnu Sayyidinnas berkata:

“Aku belum pernah melihat orang semisalnya dan aku tidak membawa suatu riwayat yang lebih berharga dan riwayat yang aku dapatkan darinya. Beliau menguasai seluruh cabang ilmu, mahir dalam hal sastra, kalau saja ada yang mendatanginya untuk meringkas kalimatnya, niscaya beliau meringkasnya. Beliau memiliki akhlak yang luhur, tanda kemuliaan sebagai orang shalih wujud pada din beliau, tanda-tanda kearifan melekat pada dirinya.”

Adalah beliau -semoga Allah meridhainya-tidak menempuh jalan perdebatan dalam membahas suatu ilmu. Beliau cukupkan kalimat yang ringan sebagaimana halnya beliau menyukai terhadap orang-orang yang sibuk dengan ilmu, banyak berbuat baik dengan mereka dan mengasihi mereka.

Seorang sahabat beliau, Syarafuddien Muhammad bin Ash-Shahib Zainuddin Ahmad berkata:

“Adalah Ibnu Daqiiq Al-’Ied bermukim dan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah kami manakala berada di Mesir. Kami melihat beliau di tengah malam shalat dan sesekali melihat ke samping rumah untuk melihat masuknya waktu fajar, lalu beliau shalat Shubuh. Beliau berbaring di waktu dhuha.”

Ibnu Idris Al-Quraafi berkata:

“Syaikh Taqiyyudin shalat malam dan tidak tidur di waktu malam selama 40 tahun”.

KEDUDUKAN BELIAU DI SISI HAKIM DAN QADHI

Adz-Dzahabi berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Sultan Husamuddien Laajin manakala melihat kedatangan Syaikh Ibnu Daqiiq, beliau berdiri dan menyambut kedatangannya”.

Ibnu Az Zamlakani berkata: “Adalah Sultan Lajin turun dan takhtanya dan mencium tangannya. Beliau memiliki akidah yang lurus dan kua keyakinannya terhadap Allah Ta’ala”.

Al-Barzali berkata di dalam tarikhnya: “Tatkala hari Sabtu tanggal 18 Jumadil Ula tahun 695 H diangkatlah menjadi Qadhi di Negeri Mesir Syaikh Mufti pengikut salaf, Taqiyyuddien Abu AlFath A1-Qusyairi, dikenal dengan Ibnu Daqiiq A1-’Ied. Hal itu berlangsung hingga beliau wafat pada bulan Shafar tahun 702 H.

Asy-Syihab Mahmud berkata: “Kedua mataku belum pernah melihat orang yang lebih bagus adabnya dan beliau. Kalau saja beliau tidak menjadi qadhi niscaya akan terjadi huru-hara di zamannya dan terjadilah perpecahan ketika itu”.

Di antara sya’ir beliau adalah:

Tiada cita-citaku selain-Mu
Saat hari-hari kehidupanku berpisah
Tiada kelezatan yang kuinginkan selain melihat wajah-Mu
Dan selain kalam-Mu tak sudi aku mendengarnya.

Di antara sya’ir beliau yang lain:

Ku ingin usia senja segera mendatangiku
Sehingga kekasihku dekat untuk kudatangi
Ku jadikan usia muda untuk berkarya
Hingga usia tua ku akan menuainya

sumber : Syarah Hadits Arbain, Ibnu Daqiq Ied (terjemahan : Abu Abdillah Umar Syariff), Pustaka At-Tibyan-Solo.

BIOGRAFI PENULIS ARBA’IN

Januari 25, 2012 § Tinggalkan komen

BIOGRAFI PENULIS ARBA’IN

Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husein bin Jam’ah Al-Haazi Muhyiddin Abu Zakariya An.-Nawawi Asy Syafi’i A1-’Allamah, Syaikhul Madzhab dan termasuk fuqaha’ senior.

Beliau lahir di Nawa, sebuah desa di selatan Damsyiq pada tahun 631 H. Beliau tumbuh dan melihat lailatul qadar tatkala berumur tujuh tahun dan tanda-tanda kebagusannya telah nampak pada din beliau semenjak kecil.

Syaikh Yaasin bin Yusuf Al-Marakisyi berkata: “Aku melihat Syaikh tatkala beliau berumur 10 tahun di Nawa. Anak-anak yang lain memaksa beliau untuk diajak bermain, namun beliau lan dan mereka sembari menangis karena dipaksa bermain-main bersama mereka. Beliau menghafal Al-Qur’an pada umur tersebut dan jadilah Al-Qur’an itu sesuatu yang dicintai hatinya. Ayah beliau menyuruhnya menunggu toko, akan tetapi jual beli tidak menyibukkan beliau untuk membaca Al-Qur’an.

Syaikh Yasin berkata: “Aku mendatangi gurunya dan berwasiat kepadanya dan aku katakan: “Sesungguhnya ia (An-Nawawi) dapat diharapkan menjadi orang yang paling pandai di zamannya, yang paling zuhud dan manusia dapat mengambil manfaat dannya”. Maka guru tersebut berkata kepadaku: “Apakah engkau ini tukang ramal?” Aku katakan: “Bukan, ini hanyalah menurut Wawasan yang Allah berikan kepadaku”. Lalu guru tersebut mencenitakan hal itu kepada orang tuanya sehingga orang tuanya bersemangat untuk mendorong beliau agar segera menghafalkan A1-Qur’an dan memperlakukan beliau dengan lembut.”

KEDATANGAN BELIAU DI DAMSYIQ DAN TINGGALNYA BELIAU DISANA

Imam An-Nawawi berkata: “Tatkala menginjak usia 19 tahun orang tuaku membawaku ke Damsyiq lalu aku tinggal di Madrasah Rawahiyah selama kurang lebih dua tahun untuk mencari ilmu dan tinggal di dalamnya”. Beliau menegakkan ibadah dan beliau mencukupi keperluan hidupnya dan pemberian madrasah dan beliau infakkan sebagian darinya.

Beliau menunaikan haji tatkala beliau tinggal di Damsyiq tahun 651 H. Beliau tinggal di Madinah Al-Munawarah selama satu setengah bulan, ketika itu wukuf di Arafah bertepatan dengan hari Jum’at. Disebutkan bahwa tatkala beliau keluar untuk pergi haji tiba-tiba terserang demam dan hal itu tidak berakhir hingga beliau wuquf di Arafah, namun beliau tetap bersabar, tidak berhenti sedikitpun. Setelah beliau menyempurnakan haji lalu kembali ke Damsyiq. Setelah itu Allah betul-betul mencurahkan atas beliau dengan hujan ilmu dan nampaklah atasnya -sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lam AnNubala’- tanda-tanda kecerdikan dan kepandaiannya.

KESIBUKAN BELIAU DALAM MENCARI ILMU

Beliau senantiasa berkutat dengan ilmu dan meniti jejak para salaf dalam beribadah, baik dalam hal shalat, shiyam, wara’ dan tidak menyia-nyiakan waktu sedikitpun. Beliau membaca 12 pelajaran setiap harinya dari para syaikh berupa penjelasan maupun pendalaman dan kitab Al-Wasith, juga Al-Muhadzdzab, Al-Jam’u baina Shahihain, Shahih Muslim, Al-Lam’u karya Abu Ishaq AsySyairaazi, Ushul Al-Fiqh, Al-Muntakhib karya Fakhru Ar-Raazi, nama-nama rijalul hadits dan tentang pokok-pokok dien. Beliau juga menta’liq (mengomentari) apa-apa yang berkaitan dengan kitab-kitab tersebut, menerangkan yang sulit dan menjelaskan kaidah-kaidah bahasanya. Allah memberkahi waktu beliau dan membantunya untuk meraih apa yang beliau tekadkan.

Seakan iradah Allah telah mengistimewakan seorang alim yang agung ini untuk berkhidmat kepada ilmu-ilmu syar’i, sehingga pada gilirannya beliau menjadi rujukan bagi para ulama dan tumpuan para fuqaha’. Allah telah mencabut dan hati beliau unsur-unsur yang menjadi penghalang bagi tercapainya tujuan ini.

Beliau berkata: “Suatu ketika, terdetik di hatiku untuk menyibukkan din dengan ilmu kedokteran, maka aku membeli kitab Al-Qanun (karya Ibnu Sina) dan aku bertekad untuk menyibukkan din dengannya. Namun hatiku serasa gelap hingga berhari-hari aku tak ada semangat untuk berbuat apa-apa. Lalu aku memikirkan nasib diriku, dan pintu mana aku hendak berbuat. Kemudian Allah Ta’ala mengilhamkan aku untuk berkutat dengan ilmu kedokteran sebagai Sebab (kembalinya semangatku). Maka aku menjual buku tersebut dan aku keluarkan buku-buku di rumahku yang berkaitan dengan ilmu kedokteran, lalu hatiku serasa bersinar dan aku mendapatkan kembali apa yang telah hilang dariku”.

Dengan semangat beliau yang tinggi dalam hal ilmu ini, beliau tidak tidur malam melainkan sebentar saja. Beliau tidur sejenak bersandarkan buku-bukunya kemudian bangun untuk mengulangi pelajaran dan ilmu. Beliau tidak menyia-nyiakan waktu malam ataupun siangnya. Selalu beliau gunakan waktunya untuk sibuk dengan ilmu dan ibadah. Sarnpai-sampai manakala beliau bepergian, ketika berada di jalan beliau tetap asyik mengulang-ulang hafalannya, terlebih dengan banyaknya beliau membaca Al-Qur’an Al-Karim dan kebiasaan beliau untuk senantiasa berdzikir serta berpaling dan dunia menghadapkan wajahnya ke akhirat.

KARYA-KARYA BELIAU

Beliau memiliki karya yang berjumlah banyak, bermanfaat besar dan berfaedah agung. Di antara bab-babnya ada yang telah beliau sempurnakan ada pula yang belum disempurnakan. Di antara karya beliau adalah:

1. Al-Arba’in Fii Al-Hadits (matan dan buku yang penuh barakah ini)
2. Al-Irs yad fii Ushul Al-Hadits
3. Al-Is yaaraat ila Bayaani Al-As;naa’ Al-Mubhimaat fii Mutuuni Al Asaanid
4. Al-Ushul wa Dhawaabith fii Al-Madzhab
5. Al-Idhaah fii Manaasik Al-Hajj
6. Bustan Al-’Arifin
7. At-Ti byan fii Adabi Hamlati Al-Qur’an – sudah diterjemah oleh banyak penerbit dengan judul Adab Bersama Al-Qur’an
8. At-Tahrir fii Syarhi At-Tanbiih ii Abi Ishaq Asy-Syairaazi
9. Tuhfah Ath-Thaalib An-Na biih fii Syarlii At-Tanbiih
10. Tuhfat Al-Waalid wa Baghiyatu Ar-Ra’id
11. At-Tahqiiq
12. At-Tarkhish fii A1-Ikram bit Qiyaami ii Dzawil Fadhl wal Maziyah min Alili Al-Islam
13. At-Taqrib wa At-Taisir li Ma’rifah Sunan Al-Basyir AnNadziir
14. Taqriib Al-Irs yad ila Ilmi Al-Isnaad
15. Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughat
16. Al-Adzkar (Hilyatul Abraar wa Syi’aarul Akhyaar) – sudah diterjemah
17. Khulashah Al-Ahkam fii Muhimmaat As-Sunan wa Qawa’id Al-Islam
18. Ruuh Al-Masa’il fii Al-Furuu’
19. Riyadhu Ash-Shalihin – sudah diterjemahkan
20. Syarh Al-Jami’ Ash-Shahih Iil Bukhari ila Akhir Kitaabi Al-Iman.
21. Uyuunu Al-Masa’il Al-Muliimrnah
22. Ghi its An-Naf’i fii Al-Qiraa’at As-Sab’i
23. Al-Mublijm ‘Ala Huruufi Al-Mu’jam
24. Al-Majmu’ fii Syarhi Al-Muhadzdzab Ii Abi Ishaq AsySyairaazi (belum sempurna) – sudah diterjemah oleh Pustaka Azzam Jakarta
25. Mir’atu Az-Zamaan fii Taarikh Al-A’yaan
26. Manaasik Al Hajj Tsalatsatus Shugra wa Wustha wa Kubra
27. Al-Mantsuuraat wa Uyuun Al-Masa’il Al-Muhimmat
28. Al-Minhaaj lisyarhi Shahih Muslim bin Hajjaj  – sudah diterjemah oleh Pustaka Azzam dan Darus Sunnah Jakarta
29. Minhaaj Ath-Thaalibin fii Al-Furuu’ – sudah diterjemah oleh Pustaka Azzam Jakarta

GURU-GURU BELIAU

Beliau menjumpai para ahli ilmu baik dalam bidang fikih, hadits, bahasa, ushul dan yang lain, mengambil manfaat dan mereka sesuai dengan spesialisasi mereka. Dan di antara syaikh-syaikh tersebut adalah:

1. Abu Ibrahim Ishaaq bin Ahmad bin Utsman A1-Maghribi (dan beliaulah manfaat yang paling besar yang Imam An-Nawawi dapatkan)
2. Abu Hafsh Umar bin As’ad Al-Irbili
3. Abu Al-Hasan Silaar bin Al-Hasan Al-Irbili
4. Abu Muhammad Abdurrahman bin Nuuh Al-Maqdisi.

Imam An-Nawawi belajar kepada beliau tentang fikih, qira’ah, tashhih, sima’, syarh dan ta’liq. Demikian pula beliau mengambil ilmu hadits dan rijalnya kepada:

5. Abu Ishaq Ibrahini bin Isa Al-Muradi
6. Abu Al Baqaa’ Khaalid bin Yuusuf An-Nabilisi
7. Adh Dhiya’ bin Tamam Al-Hanafi
8. Abu Ishaq Ibraahim bin Au Al-Waasithi
9. Abu Al-Abbas Ahmad bin Abd Ad Da’im Al-Maqdisi
10. Abu Muhammad Isma’il bin Ibrahim At-Tanuukhi
11. Abu Al-Faraj Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi.

Beliau belajar bahasa dan:

12. Abu Al-Abbas Saalim bin Ahmad Al-Mishri
13. Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Maalik Al Jiyaani penulis Alfiyah.

Beliau belajar Ushul Fikih kepada:

14. Abu Al-Fath Umar bin Bandar bin Umar At-Tafluisi Asy-Syafi’i.

Syaikh An-Nawawi -semoga Allah meridhainya- hidup dengan meneladani para syaikh dan pendahulu mereka (para salaf), meniti jejak mereka membuat hidup beliau di penuhi dengan takwa dan qana’ah, wara’ merasa diawasi Allah baik tatkala sendiri maupun di saat ramai. Beliau tinggalkan lezatnya makanan dan mewahnya pakaian. Beliau mencukupkan diri dengan sedikit makan dan berpakaian yang sederhana.

sumber : Syarah Hadits Arbain, Ibnu Daqiq Ied (terjemahan : Abu Abdillah Umar Syariff), Pustaka At-Tibyan-Solo.

Syarah Hadis Arbain Imam Nawawi

Januari 25, 2012 § 1 Komen

Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi

Muqaddimah Pengarang

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb seluruh alam, Pengatur langit dan bumi, Pemelihara seluruh makhluk, dan Pengutus seluruh rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim kepada seluruh mukallaf untuk memberi petunjuk kepada nereka, menjelaskan ajaran-ajaran syariat agama dengan dalil-dalil yang pasti dan bukti-bukti yang jelas. Saya memuji-Nya atas segala nikmat yang Dia limpahkan, dan saya memohon tambahan keutamaan dan karunia-Nya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa, Yang Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun. Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba, utusan, kekasih, dan kesavangan-Nya, makhluk-Nya yang paling utama, yang dimuliakan dengan Al-Qur’an Al-’Aziz yang menjadi mukjizat sepanjang masa, dan dengan sunnah-sunnah yang menyinari orang-orang yang mencari petunjuk, yang diberi kekhususan dengan jawami’ul-kalim (ungkapan yang singkat, tetapi makna padat) dan agama yang mudah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada seluruh nabi dan rasul, seluruh keluarga mereka, dan segenap orang-orang shalih.

Amma ba’du,

Kami telah meriwayatkan dari ‘Ali ibnu Abi Thalib, ‘Abdullah ibnu Mas’ud, Mu’adz ibnu Jabal, Abu Ad-Darda’, Ibnu ‘Umar, lbnu ‘Abbas, Anas ibnu Malik, Abu Hurairah, dan Abu Sa’id Al-Khudri dari banyak jalur dengan riwayat yang beragam bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa dan umatku menghafal empat puluh hadits urusan agamanya, Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat kelak termasuk dalam golongan para fuqaha’ (ahli fiqih) dan ulama (ahli ilmu).”

(Hadits ni tidak shahih meskipun mempunyai jalur yang banyak dan sudah sang terkenal. Dalam Al-’Ilal AI-Mutanahiyah (1/119), setelah mengumpukan jalur-jalurnya IbnuAl-Jauzi berkata, “Ini adalah hadits yang tidak shahih dari Rasulullah . Lihat Kasy Al-Khafa’karya Al-Ajluni (2465)).

Dalam sebuah riwayat lain:

“Allah akan membangkitkannya sebagai orang faqih dan ‘alim.”

Dalam riwayat Abu Ad-Darda’:

“Dan aku menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya pada hari kiamat.”

Dalam riwayat Ibnu Mas’ud :

“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kesurga dan pintu mana saja yang kamu suka.”

Dalam riwayat Ibnu ‘Umar:

“Ditulis dalam golongan ulama dan dikumpulkan dalam golongan syuhada.”

Para huffazh (ulama ahli hadits) telah sepakat bahwa ini adalah hadits dha’if (lemah) sekalipun mempunyai jalur yang banyak.

Dalam masalah ini para ulama telah menyusun karya yang tidak terhitung jumlahnya. Orang pertama kali yang saya ketahui menyusun karya dalam masalah ini adalah ‘Abdullah Ibnu Al-Mubarak. Kemudian Muhammad ibnu Aslam AthThusi seorang alim rabbani, lalu Al-Hasan ibnu Sufyan An-Nasa’i, Abu Bakr Al-Ajurri, Abu Bakr Muhammad ibnu Ibrahim Al-Ashfahani, Ad-Daruquthni, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Abu Abdirrahman As-Sulami, Abu Sa’id Al-Malini, Abu ‘Utsman ash-Shabuni, ‘Abduliah ibnu Muhammad Al-Anshari, Abu Bakr Al-Baihaqi, dan sejumlah ulama lain yang tidak terhitung jumlahnya baik dan kalangan orang-orang terdahulu (mutaqaddimin) maupun yang sekarang (muta’akhkhirin).

Saya telah melakukan istikharah kepada Allah Ta’ala dan mengumpulkan empat puiuh hadits ini karena meneladani imam terkenal dan para penghafal hadits dalam Islam. Para ulama telah bersepakat tentang bolehnya mengamalkan hadits dha’if dalam perkara fadha’il a’mal (keutamaan amal).

Sekalipun demikian, yang menjadi sandaran saya bukanlah hadis ini tetapi sabda beliau dalam hadits-hadits yang shahih:

“Hendaknya orang yang menyaksikan di antara kalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”

Juga sabda beliau :

“Semoga Allah membaguskan wajah seseorang yang mendengar ucapanku, kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar.”

(Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Zaid ibnu Tsabit (3660), At-Tirmidzi (2656), Ibnu Majah (230), Ahmad (5/183), Ad-Darimi (1/65), dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban (72, 73 – Al-Ibsan). Dalam hal ini juga terdapat hadits dari Jubair ibnu Muth’im yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (231) dan Ahmad (4/80-82), dan Abu Said AI-Khudri yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam AI-HiIyah (5/105), dan Anas ibnu Malik yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (236), dan dari Mu’adz yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hiiyah (9/308)).

Selanjutnya, di antara para ulama ada yang mengumpulkan empat puluh hadits dalam masalah ushuluddin (dasar-dasar agama), yang lain dalam masalah furu’ (cabang), yang lain dalam masalah jihad, yang lain dalam masalah zuhud, yang lain dalam masalah adab, dan yang lain dalam masalah khutbah. Semuanya mempunyai maksud yang baik. Semoga Allah meridhai mereka.

Adapun saya berusaha mengumpulkan empat puluh buah hadits yang lebih penting dan semua ini, yaitu empat puluh buah hadits yang mencakup semua permasalahan tersebut. Setiap hadits merupakan kaidah yang agung di antara kaidah-kaidah agama ini, yang oleh para ulama disebutkan bahwa agama Islam ini berkisar padanya, atau setengah agama Islam, atau sepertiganya, atau seperti itu [berkisar padanya].

Saya juga berketetapan bahwa empat puluh buah hadits ini semuanya shahih, dan sebagian besar dari nya terdapat dalam dua kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Saya sebutkan hadits-hadits ini tanpa sanadnya agar mudah dihafal dan memberikan manfaat yang menyeluruh insya Allah Ta’ala. Saya juga menyertakan satu bab tentang penjelasan lafaz-lafaz yang masih samar.

Setiap orang yang menghendaki akhirat seyogianya mengetahui hadits-hadits ini mengingat hadits-hadits ini mengandung pelbagai perkara penting dan mencakup peringatan terhadap segala bentuk ibadah ketaatan. Itu semua tampak jelas bagi orang yang mau merenungkannya. Hanya kepada AllahIah saya bersandar, berserah diri, dan bergantung. Hanya bagiNya-Iah segala puji dan nikmat, dan hanya Dia-lah yang mampu memberi taufik dan perlindungan.

Imam Nawawi

Sumber :

Syarah Hadits Arbain Imam Nawawi, Ta’liq oleh Syaikh Uthaimin, terjemahan Ahmad S Marzuqi, Media Hidayah-Jakarta, 2006.

BELI DI GALERINIAGA.

Musnad Imam Ahmad oleh Abul Jauza’

Oktober 2, 2011 § 1 Komen

disalin dari blog Abul Jauza’.
Saya yakin sebagian besar Pembaca pernah mendengar ‘Musnad Ahmad bin Hanbal’. Minimal, pernah membaca di beberapa artikel kalimat : ‘diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya…’. Melalui artikel ini saya mencoba membantu para Pembaca sekalian untuk mengenal lebih lanjut tentang kitab Al-Musnad ini. Dalam sajian ringkas tentu saja.
Nama Pengarang/Penulis
Ia adalah Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad bin Idriis bin ‘Abdillah bin Hayyaan Adz-Dzuhliy Asy-Syaibaaniy Al-Marwaziy tsumma Al-Baghdaadiy; salah seorang imam yang disepakati keimamannya, syaikhul-Islaamtsiqah, faqiih, haafidh, lagi hujjah.
Hajjaaj bin Asy-Syaa’ir berkata : “Kedua mataku tidak pernah melihat ruh yang ada pada di satu jasad yang lebih utama (afdlal) daripada Ahmad bin Hanbal”. Abu Bakr bin Abi Daawud berkata : “Tidak ada di jaman Ahmad bin Hanbal orang yang semisalnya”. Abu Zur’ah berkata : “Ahmad bin Hanbal hapal sejuta hadits”. Ibnu Maakuulaa berkata : “Ia adalah orang yang paling ‘aalim terhadap madzhab shahabat dan taabi’iin”.
Biografi beliau terdapat di banyak kitab, di antaranya : Tahdziibul-Kamaal 1/437-470 no. 96, Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 11/177-359 no. 78, al-Jarh wat-Ta’diil 1/292-313, dan yang lainnya.
Metode Penyusunannya
Al-Imaam Ahmad rahimahullah menyusun kitab Al-Musnad berdasarkan tartiib hadits :
1.     Sepuluh orang shahabat yang dijamin masuk surga.
2.     ‘Abdurrahmaan bin Abi Bakr, Zaid bin Khaarijah, Al-Haarits bin Khazamah, dan Sa’d bin Maulaa Abi Bakr.
3.     Musnad Ahlul-Bait.
4.     Musnad dari banyak shahabat, di antaranya : Ibnu Mas’uud, Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, Abu Sa’iid Al-Khudriy, Jaabir, Anas, Ibnu ‘Amru bin Al-‘Aash, dan yang lainnya.
5.     Musnad penduduk Makkah (Makiyyiin)
6.     Musnad penduduk Madiinah (Madaniyyiin).
7.     Musnad penduduk Syaam (Syaamiyyiin).
8.     Musnad penduduk Kuufah (Kuufiyyiin).
9.     Musnad penduduk Bashrah (bashriyyiin).
10.   Musnad Al-Anshaar.
11.   Musnad ‘Aaisyah dan para shahabiyyaat.
12.   Kabilah-kabilah yang lain.
Kedudukan Al-Musnad
Ibnu Samaak berkata :
حدثنا حنبل، قال: جمعنا أحمد بن حنبل، أنا وصالح وعبد الله، وقرأ علينا ” المسند “، ما سمعه غيرنا. وقال: هذا الكتاب: جمعته وانتقيته من أكثر من سبع مئة ألف وخمسين ألفا، فما اختلف المسلمون فيه من حديث رسول الله، صلى الله عليه وسلم، فارجعوا إليه. فإن وجدتموه فيه، وإلا فليس بحجة
Telah menceritakan kepada kami Hanbal, ia berkata : “Ahmad bin Hanbal mengumpulkan kepada kami, yaitu aku, Shaalih, dan ‘Abdullah; dan beliau membacakan kepada kami Al-Musnad yang tidak ada yang mendengarnya selain kami. Beliau berkata : ‘Kitab ini (yaitu Al-Musnad) aku kumpulkan dan aku pilih dari lebih 750.000 hadits. Dan apa yang diperselisihkan kaum muslimin dari hadits Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka merujuklah kepadanya. Apabila kalian mendapatkan padanya (hadits tersebut, maka itu dapat dipergunakan sebagai hujjah). Namun jika kalian tidak mendapatkannya, maka ia tidak bisa digunakan sebagai hujjah” [As-Siyar, 11/329].
Abu Muusaa Muhammad bin Abi Bakr Al-Madiniy rahimahullah berkata :
وهذا الكتاب أصل كبير ، ومرجع وثيق لأصحاب الحديث ، انتقي من حديث كثير ومسموعات وافرة ، فجعله إماماً ومعتمداً ، وعند التنازع ملجأً ومستنداً
“Kitab ini merupakan pokok yang besar, referensi yang kokoh bagi ahli hadits. Ia (Ahmad) memilahnya dari hadits yang banyak dan riwayat yang melimpah, sehingga menjadikannya sebagai imam dan pedoman, serta sandaran ketika terjadi perselisihan” [Khashaaish Musnad Al-Imaam Ahmad, hal. 13].
Jumlah Hadits dalam Al-Musnad
Abu Muusaa Muhammad bin Abi Bakr Al-Madiniy rahimahullah berkata :
فأما عدد أحاديث المسند فلم أزل أسمع من أفواه الناس أنها أربعون ألفا إلى أن قرأت على أبي منصور بن زريق ببغداد أخبرنا أبو بكر الخطيب قال وقال أبن النادي لم يكن في الدنيا أحد أروى عن أبيه منه يعني عبد الله بن أحمد بن حنبل لأنه سمع المسند وهو ثلاثون ألفا والتفسير وهو مائة ألف وعشرون ألفا…. فلا أدري هل الذي ذكره ابن المنادي أراد به ما لا مكرر فيه وأراد غيره من المكرر فيصح القولان جميعا ….
“Adapun jumlah hadits dalam kitab Al-Musnad, maka aku senantiasa mendengar dari ucapan manusia bahwa ia berjumlah 40.000 hadits, hingga aku membacakannya kepada Abu manshuur bin Zuraiq di Baghdaad : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Khathiib, ia berkata : Telah berkata Ibnul-Munaadiy : ‘Tidak ada di dunia seorang pun yang meriwayatkan dari ayahnya lebih banyak darinya, yaitu ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Karena ia mendengar Al-Musnad yang jumlahnya 30.000 hadits, dan Tafsiir yang jumlahnya 120.000 hadits’…. Aku tidak tahu apakah yang disebutkan Ibnul-Munaadiy adalah hadits yang tidak diulang-ulang ataukah hadits lain yang diulang-ulang ? sehingga kedua perkataannya itu bisa benar…” [Khashaaish Musnad Al-Imaam Ahmad, hal. 15].
Namun jika kita perbandingkan dengan versi cetak yang sampai kepada kita, maka jumlah haditsnya sebagai berikut (sebatas yang saya punya/ketahui) :
1.     Penerbit Daar ‘Aalamil-Kutub, Cet. 1/1419 H, tahqiiq : As-Sayyid Abul-Ma’aathiy An-Nuuriy dkk, : sebanyak 28.199 hadits.
2.     Penerbit Baitul-Afkaar Ad-Dauliyyah, Cet. Thn. 1419 H : sebanyak 28.199 hadits.
3.     Penerbit Daarul-Hadiits, Cet. 1/1416, tahqiiq : Ahmad Syaakir dan Hamzah Zain : sebanyak 27.519.
4.     Penerbit Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1421, tahqiq : Syu’aib Al-Arna’uth dkk. : sebanyak 27.647 hadits.
5.     Program Jawaami’ul-Kalim versi 4.5 : sebanyak 27.099 hadits.
Jumlah Shahabat yang Haditsnya Tercantum dalam Al-Musnad
Abu Muusaa Muhammad bin Abi Bakr Al-Madiniy rahimahullah berkata :
قد عددتهم فبلغوا ستمائة ونيفا وتسعين سوى النساء، وعددت النساء فبلغن ستا وتسعين، واشتمل ((المسند)) على نحو ثمانمائة من الصحابة، سوى ما فيه ممن لم يسم من الأبنا والمبهمات وغيرهم
“Sungguh aku telah menghitung jumlah mereka dan mencapai 690 orang lebih selain yang wanita. Dan aku telah menghitung yang wanita (shahabiyyah)mencapat 96 orang. Oleh karena itu, kitab Al-Musnad mencakup sekitar 800 shahabat, selain yang tidak disebutkan namanya dari kalangan anak-anak, mubhaamaat (orang dewasa yang tidak disebutkan namanya), dan yang lainnya” [Al-Mish’adul-Ahmad, 1/34-35].
Syarat Al-Imaam Ahmad
Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
والذي يتبين من عمل الإمام أحمد وكلامه أنه يترك الرواية عن المُتهمين والذين كثر خطؤهم للغفعة وسوء الحفظ
“Dan yang nampak dari perbuatan dan perkataan Al-Imaam Ahmad bahwasannya beliau meninggalkan riwayat orang-orang yang tertuduh (berdusta) dan orang-orang yang banyak kelirunya akibat kelalaian dan jeleknya hapalan mereka” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 1/386].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
شرط ((المسند)) أقوى من شرط أبي داود في ((سننه))، وقد روى أبو داود في ((سننه)) عن رجال أعرض عنهم أحمد في ((المسند)) ولهذا كان الإمام أحمد لا يروي في ((المسند)) عمن يعرف أنه يكذب مثل محمد بن سعيد المصلوب ونحوه، ولكن قد يروي عمن يُضَعَّف لسوء حفظه، فإنه يكتب حديثه ليعتضد به ويعتبر به
“Syarat kitab Al-Musnad lebih kuat dibandingkan syarat Abu Daawud dalam Sunan-nya. Abu Daawud telah meriwayatkan dalam Sunan-nya dari para perawi yang ditolak oleh Ahmad dalam Al-Musnad. Oleh karena itu, Al-Imaam Ahmad tidaklah meriwayatkan dalam Al-Musnad dari perawi yang diketahui telah sering berdusta semisal Muhammad bin Sa’iid Al-Mashluub[1] dan yang lainnya. Akan tetapi beliau kadang meriwayatkan dari para perawi yang dilemahkan karena faktor jeleknya hapalannya. Perawi tersebut ditulis haditsnya untuk menguatkan (hadits lain) dan dijadikan sebagai i’tibar” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 18/26].
Beberapa perawi yang padanya ada kelemahan sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiiyahrahimahullah, contohnya sebagai berikut :
1.     Haramiy bin ‘Ammaarah Al-‘Atakiy. Ahmad berkata : “Shaduuq, namun padanya terdapat kelalaian (ghaflah)”. Ibnu Ma’iin berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun sering ragu (yahimu)”.
2.     ‘Abdullah bin Al-Waliid Al-‘Adaniy. Ahmad berkata : “Ia bukan seorang shaahibul-hadiits, dan haditsnya adalah hadits shahih. Akan tetapi ia kadang keliru dalam penyebutan nama-nama. Abu Haatim berkata : “Ditulis haditsnya, namun tidak boleh berhujjah dengannya. Ibnu Hibbaan berkata : “Mustaqiimul-hadiits”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun kadang keliru”.
3.     ‘Abdul-Wahhaab bin ‘Athaa’ Al-Khaffaaf. Ahmad berkata : “Dla’iiful-hadiits, goncang (mudltharib). Ia seorang yang ‘aalim terhadap hadits Sa’iid bin Abi ‘Aruubah”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Adz-Dzahabiy berkata : “Haditsnya berderajat hasan”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun kadang keliru”.
4.     Al-Muhaadlir bin Al-Mauri’. Ahmad berkata : “Ia seorang yang sangat lalai”. Abu Haatim berkata : “Ia tidak kokoh, ditulis haditsnya”. Abu Zur’ah berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun mempunyai beberapa keraguan”.
5.     Muammal bin Ismaa’iil. Ahmad berkata : “Ia sering keliru”. Abu Haatim berkata : “banyak keliru”. Ia ditsiqahlkan oleh Ibnu Ma’iin, Ishaaq, dan Ibnu Sa’d. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun jelek hapalannya”.
Menurut penelitian Dr. ‘Aamir bin Hasan Shabriy hafidhahullah, ternyata dalam di antara syuyuukh Al-Imaam Ahmad rahimahullah terdapat beberapa orang perawimatruuk. Perawi matruuk ini dalam ilmu mushthalah termasuk perawi yang sangat lemah. Ada empat orang, yaitu [Mu’jamu Syuyuukh Al-Imaam Ahmad fil-Musnad, hal. 29-30] :
1.     ‘Aamir bin Shaalih bin ‘Abdillah Az-Zubairiy. Ibnu Hajar berkata : “Matruukul-hadiits”.
2.     ‘Abdullah bin Waaqid. Ibnu Hajar berkata : “Matruuk”.
3.     ‘Umar bin Haaruun Al-Balkhiy. Ibnu Hajar berkata : “Matruuk”.
4.     Muhammad bin Al-Qaasim Al-Asadiy. Ibnu Hajar berkata : “Mereka mendustakannya”.
Derajat Hadits dalam Al-Musnad
Al-Haafidh Abul-Qaasim At-Tamiimiy rahimahullah berkata :
لا يجوز أن يقال ؛ فيه السقيم، بل فيه الصحيح والمشهور والحسن والغريب
“Tidak boleh untuk dikatakan : Padanya ada hadits saqiim (lemah). Akan tetapi, padanya terdapat hadits shahih, masyhuur, hasan, dan ghariib” [Al-Mish’adul-Ahmad, hal. 34].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وقد تنازع الناس : هل في مسند الإمام أحمد حديث موضوع ؟ فقال طائفة من الحفاظ كأبي العلاء الهمداني و غيره : ليس فيه موضوع ، و قال بعض العلماء كأبي الفرج ابن الجوزي : فيه موضوع
“Orang-orang berselisih pendapat : ‘Apakah di dalam Musnad Al-Imaam Ahmadterdapat hadits maudluu’ (palsu) ?. Sekelompok huffaadh seperti Abul-‘Alaa’ Al-Hamdaaniy dan selainnya berkata : ‘Tidak ada padanya hadits maudluu’’. Sebagian ulama seperti Abul-Farj bin Al-Jauziy berkata : ‘Padanya terdapat hadits maudluu’” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 18/26 dan Al-Mish’adul-Ahmad, hal. 35].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
ليس في ((مسند أحمد)) حديث لا أصل له إلا ثلاثة أحاديث أو أربعة، منها حديث عبد الرحمن بن عوف : أنه يدخل الجنة زحفا، والاعتذار عنه أنه مما أمر الإمام أحمد بالضرب عليه فتُرك سهوا
“Tidak ada dalam Musnad Ahmad hadits yang tidak ada asalnya, kecuali tiga atau empat hadits saja. Di antaranya hadits ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf, bahwasannya ia masuk surga dengan merangkak. Alasannya adalah bahwa hadits ini termasuk yang diperintahkan Al-Imaam Ahmad untuk dibuang, namun ternyata ia ditinggalkan karena lupa” [Ta’jiilul-Manfa’ah, sebagaimana disebutkan dalam Tadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah, hal. 99].
Klasifikasi Hadits-Hadits dalam Al-Musnad yang Tercetak
Asy-Syaikh Ahmad bin ‘Abdirrahmaan As-Saa’aatiy rahimahullah berkata :
بتتبعي لأحاديث المسند وجدتها تنقسم إلي ستة أقسام :
1 – قسم رواه أبو عبد الرحمن عبد الله بن الإمام أحمد ــ رحمهما الله ــ عن أبيه سماعا منه ، وهو المسمي بمسند الإمام أحمد ،  وهو كبير جدا يزيد علي ثلاثة أرباع الكتاب .
2 – وقسم سمعه عبد الله من أبيه وغيره ، وهو قليل جدا .
3 – وقسم رواه عبد الله عن غير أبيه ، وهو المسمي عند المحدثين بزوائد عبد الله ، وهو كثير بالنسبة للأقسام كلها عدا القسم الأول .
4 – وقسم قرأه عبد الله علي أبيه ولم يسمعه منه وهو قليل .
5 – وقسم لم يقرأه ولم يسمعه ولكنه وجده في كتاب أبيه بخط يده وهو قليل أيضا .
6 – وقسم رواه الحافظ أبو بكر القطيعي عن غير عبد الله وأبيه -رحمهم الله – وهو أقل الجميع
“Berdasarkan penelitianku terhadap hadits-hadits dalam Al-Musnad, aku dapati terbagi menjadi enam macam :
1.     Bagian yang diriwayatkan oleh Abu ‘Abdirrahmaan ‘Abdullah bin Al-Imaam Ahmadrahimahumallaah – dari ayahnya dengan mendengarnya langsung. Inilah yang diberi nama Musnad Al-Imaam Ahmad. Jumlahnya sangat banyak mencapai ¾ bagian kitab.
2.     Bagian yang ‘Abdullah mendengarnya dari ayahnya dan yang lainnya. Jumlahnya sangat sedikit.
3.     Bagian yang diriwayatkan ‘Abdullah dari selain ayahnya. Bagian ini dinamakan oleh para muhadditsiin (ahli hadits) sebagai Zawaaid (tambahan) dari ‘Abdullah. Jumlahnya cukup banyak dibandingkan bagian yang lain, selain bagian yang pertama.
4.     Bagian yang ‘Abdullah membacanya di hadapan ayahnya, dan ia tidak mendengar darinya. Jumlahnya sedikit.
5.     Bagian yang ia (‘Abdullah) tidak membacakannya (di hadapan ayahnya) dan tidak pula mendengarnya, akan tetapi ia mendapati kitab ayahnya dengan tulisan tangannya. Jumlahnya sedikit juga.
6.     Bagian yang diriwayatkan oleh Al-Haafidh Abu Bakr Al-Qathii’iy dari selain ‘Abdullah dan ayahnya – rahimahumullah. Jumlahnya paling sedikit [Fathur-Rabbaaniy, 1/8].
Ini saja yang dapat dituliskan. Semoga sekilas info tentang kitab Musnad Al-Imaam Ahmad ini dapat menambah kecintaan kita terhadap sunnah dan para ulama. Dan bagi yang belum pernah membaca langsung kitab ini,… hayooo,…. mari kita berusaha membacanya.
Semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – jl. Arjuna 4/6, wonokarto, wonogiri. Banyak mengambil faedah dari kitab Tadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah oleh Dr. Muhammad Az-Zahraaniy, hal. 95-100, Maktabah Daaril-Minhaaj, Cet. 1/1426; dan Mu’jamu Syuyuukh Al-Imaam Ahmad fil-Musnad oleh Dr. ‘Aamir bin Hasan Shabriy, Daarul-Basyaair Al-Islaamiyyah; dan yang lainnya].

[1]      Namanya adalah : Muhammad bin Sa’iid bin Hassaan bin Qais Al-Qurasyiy Al-Asadiy; seorang pendusta [At-Taqriib, hal. 847 no. 5944].

Ensiklopedia Kitab-Kitab Rujukan Hadits

September 28, 2011 § Tinggalkan komen

Naskah ini mengkaji pengumpulan dan penulisan hadis dari abad pertama Hijrah sehingga abad ke-9 Hijrah. Kebanyakan kitab-kitab hadis utama seperti Kitab hadis yang-6 dan kitab-kitab musnad ditulis pada abad ke-3 Hijrah.

Yang menarik perhatian saya ialah selepas abad ke-4 hijrah hingga abad ke-9 hijrah. Ini kerana, tidak banyak kajian atau bahan diterbitkan.

Antara kitab-kitab hadis yang muncul pada abad ke-4 dan ke-5 termasuklah :

  • Sahih Imam Ibnu Khuzaimah
  • Sahih Ibnu Hibban
  • Al-Mustadrak : Abu Abdillah al-Hakim an-Naisaburi
  • Syarah Musykil al-Atsar : Abu Jaafar Ath-Thahawy
  • Al-Mu’jam Al-Kabir : al-Hafidz Thabrani
  • Kitab as-Sunan : Imam ad-Daruquthni
  • As-Sunan al-Kubra : al-Hafidz Baihaqi
Manakala beberapa jenis kitab yang muncul selepas itu pula ialah :
  • kitab al-Mustakhraj
  • kitab al-Maudhuuat
  • kitab al-Ahkam
  • kitab Gharib Hadis
  • kitab Athraf
  • kitab Takhrij
  • kitab Zawa’id
  • kitab Jawami’

Ensiklopedia Kitab-Kitba Rujukan Hadits ; Lengkap Dengan Biografi Ulama Hadits dan Sejarah Pembukuannya

Judul Asal : Tadwin As-Sunnah An-Nabawiyah

Penulis : Dr Muhammad Az-Zahrani

Penterjemah : Muhammmad Rum

Halaman : 264 mukasurat

Penerbit : Darul Haq, 2011

Harga : RM 30.00 (beli di galeriniaga)

Riwayat Ringkas Para Imam Ahlus Sunnah

Mei 22, 2011 § 1 Komen

Penulis : Abu Syakir
Penerbit : Jahabersa, Johor Bharu (2004)
148 halaman

Naskah ini memuat biografi ringkas 15 sarjana hadis. Sebahagiannya cukup dikenali seperti penyusun kitab hadis yang enam. Namun ada juga beberapa sarjana yang masih belum dikenali dengan lebih dekat. Antaranya ialah Imam Thurthusi, al-Allamah Syeikh Humud At-Tuwaijiri, al-Ajurri dan Syeikh al-Allamah Hafidz bin Ahmad al-Hakami.

1. Imam Bukhari
2. Imam Mulism
3. Imam An-Nasa’i
4. Imam Abu Dawud
5. Imam Nawawi
6. Imam Abu Syuja’
7. Izuddin Abdul Salam
8. Imam Syan’ani
9. Imam Tirmidzi
10. Imam Thurthusi
11. Imam al-Ajurri
12. Imam Asy-Syaukani
13. Imam al-Hafidz Ibnu Rajab
14. Syeikh Ahmad Syakir
15. Al-Allamah Syeikh Humud At-Tuwaijiri
16. Syeikh al-Allamah Hafiz bin Ahmad al-Hakami

Semua sarjana dan intelektual yang diceritakan merupakan imam ahlus sunnah, dan tokoh pembela sunnah Nabi.

Banyak manfaat dan faedah yang dapat diambil dari kisah riwayat hidup, perjalanan mencari ilmu dan rintangan dalam berdakwah.

Saya punya beberapa masalah untuk mendulang manfaat secara maksimum dari naskah ini :

- Bab tidak disusun dengan struktur yang baik. Susunan biografi sarjana hadis culang-caling. Contohnya meletakkan Ibnu Rejab selepas Imam Syaukani, padahal Ibnu Rajab hidup zaman lebih awal dari Imam Syaukani.
– Saya juga mengesan satu kesalahan fakta yang sangat tidak wajarl. Pengarang menyatakan Imam Shan’ani (pengarang kitab Subulus Salam) terkesan dengan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Padahal Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir selepas zaman Imam Shan’ani.
– Struktur setiap bab dan tokoh yang ditampilkan tidak konsisten. Seperti ‘copy & paste’.

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.