Syarah Hadith Arbain oleh Syaikh Uthaimin : Muqaddimah

Februari 2, 2012 § Tinggalkan komen

MUQADDIMAH PENSYARAH

(Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin )

Segala puji hanya inilik Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan serta ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dan keburukan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Shalawat dan salam yang melimpah semoga senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga dan para Sahabat beliau.

Amma ba’d:

Imam an-Nawawi termasuk salah seorang murid senior Imam asy-Syafi’i yang pendapat-pendapatnya dianggap mewakili madzhab Syafi’i. Beliau juga termasuk di antara ulama madzhab Syafi’i yang memiliki karya tulis paling banyak. Beliau telah menulis karya-karya dalam disiplin ilmu agama yang sangat banyak, di antaranya dalam bidang hadits dan ilmu pengantarnya (ulumul hadits). Dalam ilmu bahasa beliau menulis kitab yang sangat terkenal, yaitu Tabdziibid Asmaa’ wal Lughaat.

Dengan banyaknya karya tulis beliau yang sangat bermutu, tepat sekali jika beliau dikategorikan ke dalam kelompok ulama yang handal keilmuannya. Nampak pula dan kepribadian beliau —wallaahu a’lam—, bahwa beliau sangat ikhlas dalam menyusun karya tulis. Hal ini terlihat dan tersebarnya karya-karya beliau ke seluruh negeri Islam.

Kitab Riyadhush Shaalihiin (salah satu karya beliau), sering dibahas di hampir seluruh masjid yang ada di muka bumi ini. Kitab-kitab beliau sangat terkenal dan tersebar di seluruh penjuru dunia, hal ini menunjukkan kejujuran niat beliau yang hanya mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala semata. Karena sesungguhnya penerimaan manusia terhadap kitab-kitab karya seorang ulama termasuk salah satu tanda atas keikhlasan niatnya.

Beliau adalah seorang mujtahid (ulama yang pendapat-pendapatnya memenuhi syarat untuk diikuti), dan seorang mujtahid (karena ia seorang manusia) memungkinkan untuk keliru atau benar. Beliau pun tidak terlepas dan hal itu, di mana beliau telah keliru dalam masalah Nama-Nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. Dalam sebagian kitabnya ditemukan adanya penakwilan (pengubahan makna sebenarnya yang terkandung dalam Nama-Nama dan sifat-sifat Allah), akan tetapi beliau tidak mengingkari keberadaan Nama-Nama dan sifat-sifat tersebut. Sebagai contoh adalah tentang sifat istiwa’nya Allah di atas ‘Arys.

Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaahaa: 5)

Para ahli takwil mengatakan, “Maknanya adalah (menguasai dan mengalahkan ‘Arsy), akan tetapi mereka tidak mengingkari bahwa Allah Ta’ala bersemayam. karena jika mereka mengingkari kabar bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy sebagai bentuk pendustaan, niscaya mereka menjadi orang yang kafir. Adapun orang yang sebatas menakwilkan dan dirinya tidak mengingkari keberadaanya, dan penakwilan tersebut dibenarkan secara bahasa, maka yang demikian tidak sampai kepada derajat kekafiran.

Akan tetapi jika pemaknaan tersebut tidak dapat dibenarkan secara bahasa, maka ketika itu pengkafiran terhadap pelakunya dibenarkan, seperti perkataan seseorang, “Allah itu tidak mempunyai tangan secara nyata, tidak pula tangan yang bermakna nikmat dan kekuatan” [para penakwil mengartikan ayat-ayat tentang ‘tangan’ seperti itu]. Jika perkataan dan keyakinan orang tersebut seperti ini, maka dia kafir, karena dia telah menolak sifat Allah dengan penolakan yang mutlak. Dan sebutan kafir tidak berlaku bagi orang yang membenarkan keberadaannya namun ia menakwilkannya.

Masalah seperti ini terjadi pada beliau di mana beliau telah keliru dalam menakwilkan sebagian ayat sifat. Kekeliruan beliau ini tidaklah nampak dikarenakan banyaknya keutamaan beliau dan manfaat yang beliau berikan kepada umat Islam. Tidaklah kita berprasangka dengan kekeliruan tersebut melainkan hal itu berdasarkan ijtihad dan takwil yang dibenarkan -menurut pandangan beliau-.

Dan saya memohon kepada Allah agar kekeliruan ini termasuk kekeliruan yang diampuni, juga menjadikan kebaikan serta manfaat yang beliau persembahkan ini termasuk upaya yang patut disyukuri (dibalas oleh Allah dengan balasan yang banyak), dan menjadikannya sebagaimana firman Allah Ta’ala,

SesungguJmya perbuatan-perbuatan yang baik itu men ghapuskan (dosa)perbuatan-perbuatan yang buruk…” (QS. Huud: 114)

Kita bersaksi atas Imam Nawawi dan apa yang kita ketahui tentang keshalihan beliau, dan bahwa beliau termasuk seorang mujtahid, yang mana setiap mujtahid bisa saja benar atau malah sebaliknya. Jika keliru maka ia mendapatkan satu pahala, dan jika benar maka ia mendapatkan dua pahala [sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah].

Beliau telah menyusun banyak karya tulis, dan di antara karya tulis beliau yang paling baik adalah kitab in yaitu al-Arba’iin an-Nawawiyyah. Dan sebenarnya hadits yang tercantum di dalamnya bukan empat puluh, tetapi empat puluh dua, hal itu karena kebiasaan bangsa Arab yang selalu membuang pecahan jumlah, sehingga mereka menggenapkannya menjadi empat puluh, meskipun jumlahnya lebih atau kurang dan itu, baik satu atau dua.

Sangatlah patut bagi para penuntut ilmu untuk menghafalkan kumpulan empat puluh hadits ini karena ia merupakan intisari dan sekian banyak hadits yang terbagi dalam banyak bab yang bermacam-macam. Berbeda dengan karya-karya tulis lainnya, seperti kitab ‘Umdatul Ahkaam, kita mendapatinya sebagai kitab intisari, akan tetapi hanya dalam satu bab saja, yaitu bab Fiqih. Adapun kitab ini (al-A rba’uun an-Nawawiyyah), di dalamnya terkandung bab (pembahasan) yang berbeda-beda dan bermacam-macam (Aqidah, Fiqih, Mu’amalah dan Akhlak).

Dan kami memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam menjelaskan kandungan kitab ini. Hanya Allah-lah Pemberi petunjuk.

beli di galeriniaga.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Syarah Hadith Arbain oleh Syaikh Uthaimin : Muqaddimah at Kitab Hadith dan Syarah Hadith.

meta

%d bloggers like this: