Musnad Imam Ahmad oleh Abul Jauza’

Oktober 2, 2011 § 1 Komen

disalin dari blog Abul Jauza’.
Saya yakin sebagian besar Pembaca pernah mendengar ‘Musnad Ahmad bin Hanbal’. Minimal, pernah membaca di beberapa artikel kalimat : ‘diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya…’. Melalui artikel ini saya mencoba membantu para Pembaca sekalian untuk mengenal lebih lanjut tentang kitab Al-Musnad ini. Dalam sajian ringkas tentu saja.
Nama Pengarang/Penulis
Ia adalah Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad bin Idriis bin ‘Abdillah bin Hayyaan Adz-Dzuhliy Asy-Syaibaaniy Al-Marwaziy tsumma Al-Baghdaadiy; salah seorang imam yang disepakati keimamannya, syaikhul-Islaamtsiqah, faqiih, haafidh, lagi hujjah.
Hajjaaj bin Asy-Syaa’ir berkata : “Kedua mataku tidak pernah melihat ruh yang ada pada di satu jasad yang lebih utama (afdlal) daripada Ahmad bin Hanbal”. Abu Bakr bin Abi Daawud berkata : “Tidak ada di jaman Ahmad bin Hanbal orang yang semisalnya”. Abu Zur’ah berkata : “Ahmad bin Hanbal hapal sejuta hadits”. Ibnu Maakuulaa berkata : “Ia adalah orang yang paling ‘aalim terhadap madzhab shahabat dan taabi’iin”.
Biografi beliau terdapat di banyak kitab, di antaranya : Tahdziibul-Kamaal 1/437-470 no. 96, Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 11/177-359 no. 78, al-Jarh wat-Ta’diil 1/292-313, dan yang lainnya.
Metode Penyusunannya
Al-Imaam Ahmad rahimahullah menyusun kitab Al-Musnad berdasarkan tartiib hadits :
1.     Sepuluh orang shahabat yang dijamin masuk surga.
2.     ‘Abdurrahmaan bin Abi Bakr, Zaid bin Khaarijah, Al-Haarits bin Khazamah, dan Sa’d bin Maulaa Abi Bakr.
3.     Musnad Ahlul-Bait.
4.     Musnad dari banyak shahabat, di antaranya : Ibnu Mas’uud, Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, Abu Sa’iid Al-Khudriy, Jaabir, Anas, Ibnu ‘Amru bin Al-‘Aash, dan yang lainnya.
5.     Musnad penduduk Makkah (Makiyyiin)
6.     Musnad penduduk Madiinah (Madaniyyiin).
7.     Musnad penduduk Syaam (Syaamiyyiin).
8.     Musnad penduduk Kuufah (Kuufiyyiin).
9.     Musnad penduduk Bashrah (bashriyyiin).
10.   Musnad Al-Anshaar.
11.   Musnad ‘Aaisyah dan para shahabiyyaat.
12.   Kabilah-kabilah yang lain.
Kedudukan Al-Musnad
Ibnu Samaak berkata :
حدثنا حنبل، قال: جمعنا أحمد بن حنبل، أنا وصالح وعبد الله، وقرأ علينا ” المسند “، ما سمعه غيرنا. وقال: هذا الكتاب: جمعته وانتقيته من أكثر من سبع مئة ألف وخمسين ألفا، فما اختلف المسلمون فيه من حديث رسول الله، صلى الله عليه وسلم، فارجعوا إليه. فإن وجدتموه فيه، وإلا فليس بحجة
Telah menceritakan kepada kami Hanbal, ia berkata : “Ahmad bin Hanbal mengumpulkan kepada kami, yaitu aku, Shaalih, dan ‘Abdullah; dan beliau membacakan kepada kami Al-Musnad yang tidak ada yang mendengarnya selain kami. Beliau berkata : ‘Kitab ini (yaitu Al-Musnad) aku kumpulkan dan aku pilih dari lebih 750.000 hadits. Dan apa yang diperselisihkan kaum muslimin dari hadits Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka merujuklah kepadanya. Apabila kalian mendapatkan padanya (hadits tersebut, maka itu dapat dipergunakan sebagai hujjah). Namun jika kalian tidak mendapatkannya, maka ia tidak bisa digunakan sebagai hujjah” [As-Siyar, 11/329].
Abu Muusaa Muhammad bin Abi Bakr Al-Madiniy rahimahullah berkata :
وهذا الكتاب أصل كبير ، ومرجع وثيق لأصحاب الحديث ، انتقي من حديث كثير ومسموعات وافرة ، فجعله إماماً ومعتمداً ، وعند التنازع ملجأً ومستنداً
“Kitab ini merupakan pokok yang besar, referensi yang kokoh bagi ahli hadits. Ia (Ahmad) memilahnya dari hadits yang banyak dan riwayat yang melimpah, sehingga menjadikannya sebagai imam dan pedoman, serta sandaran ketika terjadi perselisihan” [Khashaaish Musnad Al-Imaam Ahmad, hal. 13].
Jumlah Hadits dalam Al-Musnad
Abu Muusaa Muhammad bin Abi Bakr Al-Madiniy rahimahullah berkata :
فأما عدد أحاديث المسند فلم أزل أسمع من أفواه الناس أنها أربعون ألفا إلى أن قرأت على أبي منصور بن زريق ببغداد أخبرنا أبو بكر الخطيب قال وقال أبن النادي لم يكن في الدنيا أحد أروى عن أبيه منه يعني عبد الله بن أحمد بن حنبل لأنه سمع المسند وهو ثلاثون ألفا والتفسير وهو مائة ألف وعشرون ألفا…. فلا أدري هل الذي ذكره ابن المنادي أراد به ما لا مكرر فيه وأراد غيره من المكرر فيصح القولان جميعا ….
“Adapun jumlah hadits dalam kitab Al-Musnad, maka aku senantiasa mendengar dari ucapan manusia bahwa ia berjumlah 40.000 hadits, hingga aku membacakannya kepada Abu manshuur bin Zuraiq di Baghdaad : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Khathiib, ia berkata : Telah berkata Ibnul-Munaadiy : ‘Tidak ada di dunia seorang pun yang meriwayatkan dari ayahnya lebih banyak darinya, yaitu ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Karena ia mendengar Al-Musnad yang jumlahnya 30.000 hadits, dan Tafsiir yang jumlahnya 120.000 hadits’…. Aku tidak tahu apakah yang disebutkan Ibnul-Munaadiy adalah hadits yang tidak diulang-ulang ataukah hadits lain yang diulang-ulang ? sehingga kedua perkataannya itu bisa benar…” [Khashaaish Musnad Al-Imaam Ahmad, hal. 15].
Namun jika kita perbandingkan dengan versi cetak yang sampai kepada kita, maka jumlah haditsnya sebagai berikut (sebatas yang saya punya/ketahui) :
1.     Penerbit Daar ‘Aalamil-Kutub, Cet. 1/1419 H, tahqiiq : As-Sayyid Abul-Ma’aathiy An-Nuuriy dkk, : sebanyak 28.199 hadits.
2.     Penerbit Baitul-Afkaar Ad-Dauliyyah, Cet. Thn. 1419 H : sebanyak 28.199 hadits.
3.     Penerbit Daarul-Hadiits, Cet. 1/1416, tahqiiq : Ahmad Syaakir dan Hamzah Zain : sebanyak 27.519.
4.     Penerbit Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1421, tahqiq : Syu’aib Al-Arna’uth dkk. : sebanyak 27.647 hadits.
5.     Program Jawaami’ul-Kalim versi 4.5 : sebanyak 27.099 hadits.
Jumlah Shahabat yang Haditsnya Tercantum dalam Al-Musnad
Abu Muusaa Muhammad bin Abi Bakr Al-Madiniy rahimahullah berkata :
قد عددتهم فبلغوا ستمائة ونيفا وتسعين سوى النساء، وعددت النساء فبلغن ستا وتسعين، واشتمل ((المسند)) على نحو ثمانمائة من الصحابة، سوى ما فيه ممن لم يسم من الأبنا والمبهمات وغيرهم
“Sungguh aku telah menghitung jumlah mereka dan mencapai 690 orang lebih selain yang wanita. Dan aku telah menghitung yang wanita (shahabiyyah)mencapat 96 orang. Oleh karena itu, kitab Al-Musnad mencakup sekitar 800 shahabat, selain yang tidak disebutkan namanya dari kalangan anak-anak, mubhaamaat (orang dewasa yang tidak disebutkan namanya), dan yang lainnya” [Al-Mish’adul-Ahmad, 1/34-35].
Syarat Al-Imaam Ahmad
Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
والذي يتبين من عمل الإمام أحمد وكلامه أنه يترك الرواية عن المُتهمين والذين كثر خطؤهم للغفعة وسوء الحفظ
“Dan yang nampak dari perbuatan dan perkataan Al-Imaam Ahmad bahwasannya beliau meninggalkan riwayat orang-orang yang tertuduh (berdusta) dan orang-orang yang banyak kelirunya akibat kelalaian dan jeleknya hapalan mereka” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 1/386].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
شرط ((المسند)) أقوى من شرط أبي داود في ((سننه))، وقد روى أبو داود في ((سننه)) عن رجال أعرض عنهم أحمد في ((المسند)) ولهذا كان الإمام أحمد لا يروي في ((المسند)) عمن يعرف أنه يكذب مثل محمد بن سعيد المصلوب ونحوه، ولكن قد يروي عمن يُضَعَّف لسوء حفظه، فإنه يكتب حديثه ليعتضد به ويعتبر به
“Syarat kitab Al-Musnad lebih kuat dibandingkan syarat Abu Daawud dalam Sunan-nya. Abu Daawud telah meriwayatkan dalam Sunan-nya dari para perawi yang ditolak oleh Ahmad dalam Al-Musnad. Oleh karena itu, Al-Imaam Ahmad tidaklah meriwayatkan dalam Al-Musnad dari perawi yang diketahui telah sering berdusta semisal Muhammad bin Sa’iid Al-Mashluub[1] dan yang lainnya. Akan tetapi beliau kadang meriwayatkan dari para perawi yang dilemahkan karena faktor jeleknya hapalannya. Perawi tersebut ditulis haditsnya untuk menguatkan (hadits lain) dan dijadikan sebagai i’tibar” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 18/26].
Beberapa perawi yang padanya ada kelemahan sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiiyahrahimahullah, contohnya sebagai berikut :
1.     Haramiy bin ‘Ammaarah Al-‘Atakiy. Ahmad berkata : “Shaduuq, namun padanya terdapat kelalaian (ghaflah)”. Ibnu Ma’iin berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun sering ragu (yahimu)”.
2.     ‘Abdullah bin Al-Waliid Al-‘Adaniy. Ahmad berkata : “Ia bukan seorang shaahibul-hadiits, dan haditsnya adalah hadits shahih. Akan tetapi ia kadang keliru dalam penyebutan nama-nama. Abu Haatim berkata : “Ditulis haditsnya, namun tidak boleh berhujjah dengannya. Ibnu Hibbaan berkata : “Mustaqiimul-hadiits”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun kadang keliru”.
3.     ‘Abdul-Wahhaab bin ‘Athaa’ Al-Khaffaaf. Ahmad berkata : “Dla’iiful-hadiits, goncang (mudltharib). Ia seorang yang ‘aalim terhadap hadits Sa’iid bin Abi ‘Aruubah”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Adz-Dzahabiy berkata : “Haditsnya berderajat hasan”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun kadang keliru”.
4.     Al-Muhaadlir bin Al-Mauri’. Ahmad berkata : “Ia seorang yang sangat lalai”. Abu Haatim berkata : “Ia tidak kokoh, ditulis haditsnya”. Abu Zur’ah berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun mempunyai beberapa keraguan”.
5.     Muammal bin Ismaa’iil. Ahmad berkata : “Ia sering keliru”. Abu Haatim berkata : “banyak keliru”. Ia ditsiqahlkan oleh Ibnu Ma’iin, Ishaaq, dan Ibnu Sa’d. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, namun jelek hapalannya”.
Menurut penelitian Dr. ‘Aamir bin Hasan Shabriy hafidhahullah, ternyata dalam di antara syuyuukh Al-Imaam Ahmad rahimahullah terdapat beberapa orang perawimatruuk. Perawi matruuk ini dalam ilmu mushthalah termasuk perawi yang sangat lemah. Ada empat orang, yaitu [Mu’jamu Syuyuukh Al-Imaam Ahmad fil-Musnad, hal. 29-30] :
1.     ‘Aamir bin Shaalih bin ‘Abdillah Az-Zubairiy. Ibnu Hajar berkata : “Matruukul-hadiits”.
2.     ‘Abdullah bin Waaqid. Ibnu Hajar berkata : “Matruuk”.
3.     ‘Umar bin Haaruun Al-Balkhiy. Ibnu Hajar berkata : “Matruuk”.
4.     Muhammad bin Al-Qaasim Al-Asadiy. Ibnu Hajar berkata : “Mereka mendustakannya”.
Derajat Hadits dalam Al-Musnad
Al-Haafidh Abul-Qaasim At-Tamiimiy rahimahullah berkata :
لا يجوز أن يقال ؛ فيه السقيم، بل فيه الصحيح والمشهور والحسن والغريب
“Tidak boleh untuk dikatakan : Padanya ada hadits saqiim (lemah). Akan tetapi, padanya terdapat hadits shahih, masyhuur, hasan, dan ghariib” [Al-Mish’adul-Ahmad, hal. 34].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وقد تنازع الناس : هل في مسند الإمام أحمد حديث موضوع ؟ فقال طائفة من الحفاظ كأبي العلاء الهمداني و غيره : ليس فيه موضوع ، و قال بعض العلماء كأبي الفرج ابن الجوزي : فيه موضوع
“Orang-orang berselisih pendapat : ‘Apakah di dalam Musnad Al-Imaam Ahmadterdapat hadits maudluu’ (palsu) ?. Sekelompok huffaadh seperti Abul-‘Alaa’ Al-Hamdaaniy dan selainnya berkata : ‘Tidak ada padanya hadits maudluu’’. Sebagian ulama seperti Abul-Farj bin Al-Jauziy berkata : ‘Padanya terdapat hadits maudluu’” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 18/26 dan Al-Mish’adul-Ahmad, hal. 35].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
ليس في ((مسند أحمد)) حديث لا أصل له إلا ثلاثة أحاديث أو أربعة، منها حديث عبد الرحمن بن عوف : أنه يدخل الجنة زحفا، والاعتذار عنه أنه مما أمر الإمام أحمد بالضرب عليه فتُرك سهوا
“Tidak ada dalam Musnad Ahmad hadits yang tidak ada asalnya, kecuali tiga atau empat hadits saja. Di antaranya hadits ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf, bahwasannya ia masuk surga dengan merangkak. Alasannya adalah bahwa hadits ini termasuk yang diperintahkan Al-Imaam Ahmad untuk dibuang, namun ternyata ia ditinggalkan karena lupa” [Ta’jiilul-Manfa’ah, sebagaimana disebutkan dalam Tadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah, hal. 99].
Klasifikasi Hadits-Hadits dalam Al-Musnad yang Tercetak
Asy-Syaikh Ahmad bin ‘Abdirrahmaan As-Saa’aatiy rahimahullah berkata :
بتتبعي لأحاديث المسند وجدتها تنقسم إلي ستة أقسام :
1 – قسم رواه أبو عبد الرحمن عبد الله بن الإمام أحمد ــ رحمهما الله ــ عن أبيه سماعا منه ، وهو المسمي بمسند الإمام أحمد ،  وهو كبير جدا يزيد علي ثلاثة أرباع الكتاب .
2 – وقسم سمعه عبد الله من أبيه وغيره ، وهو قليل جدا .
3 – وقسم رواه عبد الله عن غير أبيه ، وهو المسمي عند المحدثين بزوائد عبد الله ، وهو كثير بالنسبة للأقسام كلها عدا القسم الأول .
4 – وقسم قرأه عبد الله علي أبيه ولم يسمعه منه وهو قليل .
5 – وقسم لم يقرأه ولم يسمعه ولكنه وجده في كتاب أبيه بخط يده وهو قليل أيضا .
6 – وقسم رواه الحافظ أبو بكر القطيعي عن غير عبد الله وأبيه -رحمهم الله – وهو أقل الجميع
“Berdasarkan penelitianku terhadap hadits-hadits dalam Al-Musnad, aku dapati terbagi menjadi enam macam :
1.     Bagian yang diriwayatkan oleh Abu ‘Abdirrahmaan ‘Abdullah bin Al-Imaam Ahmadrahimahumallaah – dari ayahnya dengan mendengarnya langsung. Inilah yang diberi nama Musnad Al-Imaam Ahmad. Jumlahnya sangat banyak mencapai ¾ bagian kitab.
2.     Bagian yang ‘Abdullah mendengarnya dari ayahnya dan yang lainnya. Jumlahnya sangat sedikit.
3.     Bagian yang diriwayatkan ‘Abdullah dari selain ayahnya. Bagian ini dinamakan oleh para muhadditsiin (ahli hadits) sebagai Zawaaid (tambahan) dari ‘Abdullah. Jumlahnya cukup banyak dibandingkan bagian yang lain, selain bagian yang pertama.
4.     Bagian yang ‘Abdullah membacanya di hadapan ayahnya, dan ia tidak mendengar darinya. Jumlahnya sedikit.
5.     Bagian yang ia (‘Abdullah) tidak membacakannya (di hadapan ayahnya) dan tidak pula mendengarnya, akan tetapi ia mendapati kitab ayahnya dengan tulisan tangannya. Jumlahnya sedikit juga.
6.     Bagian yang diriwayatkan oleh Al-Haafidh Abu Bakr Al-Qathii’iy dari selain ‘Abdullah dan ayahnya – rahimahumullah. Jumlahnya paling sedikit [Fathur-Rabbaaniy, 1/8].
Ini saja yang dapat dituliskan. Semoga sekilas info tentang kitab Musnad Al-Imaam Ahmad ini dapat menambah kecintaan kita terhadap sunnah dan para ulama. Dan bagi yang belum pernah membaca langsung kitab ini,… hayooo,…. mari kita berusaha membacanya.
Semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – jl. Arjuna 4/6, wonokarto, wonogiri. Banyak mengambil faedah dari kitab Tadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah oleh Dr. Muhammad Az-Zahraaniy, hal. 95-100, Maktabah Daaril-Minhaaj, Cet. 1/1426; dan Mu’jamu Syuyuukh Al-Imaam Ahmad fil-Musnad oleh Dr. ‘Aamir bin Hasan Shabriy, Daarul-Basyaair Al-Islaamiyyah; dan yang lainnya].

[1]      Namanya adalah : Muhammad bin Sa’iid bin Hassaan bin Qais Al-Qurasyiy Al-Asadiy; seorang pendusta [At-Taqriib, hal. 847 no. 5944].
Advertisements

Imam Ahmad bin Hanbal

Oktober 25, 2010 § Tinggalkan komen

disalin dari Darussalaf

Penulis: Abu Muqbil bin Muhammad Hasyim

Nama dan Nasab :
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti Abbasiyah menjadi da’i yang kritis.

Kelahiran Beliau :
Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah. Beliau tumbuh besar di bawah asuhan kasih sayang ibunya, karena bapaknya meninggal dunia saat beliau masih berumur belia, tiga tahun. Meski beliau anak yatim, namun ibunya dengan sabar dan ulet memperhatian pendidikannya hingga beliau menjadi anak yang sangat cinta kepada ilmu dan ulama karena itulah beliau kerap menghadiri majlis ilmu di kota kelahirannya.

Awal mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula.

Keadaan fisik beliau :
Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Beliau senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”

Keluarga beliau :
Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.

Kecerdasan beliau :
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.

Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.

Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Beliau masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Pujian Ulama terhadap beliau :
Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”.

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.

Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.

Kezuhudannya :
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.

Tekunnya dalam ibadah
Abdullah bin Ahmad berkata, “Bapakku mengerjakan shalat dalam sehari-semalam tiga ratus raka’at, setelah beliau sakit dan tidak mampu mengerjakan shalat seperti itu, beliau mengerjakan shalat seratus lima puluh raka’at.

Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.

Tawadhu’ dengan kebaikannya :
Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”.

Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”.

Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Beliau sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.

Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

Sabar dalam menuntut ilmu
Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.

Hati-hati dalam berfatwa :
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap demikian”.

Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran
Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.

Masa Fitnah :
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.

Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya.

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalianKhabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Beliau mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.

Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!

Guru-guru Beliau
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:
1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i.
6. Waki’ bin Jarrah.
7. Ismail bin Ulayyah.
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil.

Murid-murid Beliau :
Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah :
1. Imam Bukhari
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya.

Wafat beliau :
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.

Karya beliau sangat banyak, di antaranya :
1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh
Terlalu sempit lembaran kertas untuk menampung indahnya kehidupan sang Imam. Sungguh sangat terbatas ungkapan dan uraian untuk bisa memaparkan kilauan cahaya yang memancar dari kemulian jiwanya. Perjalanan hidup orang yang meneladai panutan manusia dengan sempurna, cukuplah itu sebagai cermin bagi kita, yang sering membanggakannya namun jauh darinya.

Dikumpulkan dan diterjemahkan dari kitab Siyar A’lamun Nubala
Karya Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah
Sumber: Majalah As Salam

Ahmad bin Hanbal Tauladan dalam Semangat dan Kesabaran

Oktober 25, 2010 § Tinggalkan komen

disalin dari Ma’had As-Salafy.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih, bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

Kunyah dan Nama Lengkap beliau rahimahullah

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin ‘Auf bin Qosith bin Mazin bin Syaiban Adz Dzuhli Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Baghdadi.

Lahir pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriyah di kota Marwa. Beliau lebih dikenal dengan Ahmad bin Hanbal, disandarkan kepada kakeknya. Karena sosok kakeknya lebih dikenal daripada ayahnya. Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia 3 tahun. Kemudian sang ibu yang bernama Shafiyah binti Maimunah membawanya ke kota Baghdad. Ibunya benar-benar mengasuhnya dengan pendidikan yang sangat baik hingga beliau tumbuh menjadi seorang yang berakhlak mulia.

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu

Sungguh mengagumkan semangat Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam menuntut ilmu. Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab (semacam TPA di zaman sekarang).

Kemudian pada tahun 179 Hijriyah, saat usianya 15 tahun, beliau memulai menuntut ilmu kepada para ulama terkenal di masanya. Beliau awali dengan menimba ilmu kepada para ulama Baghdad, di kota yang ia tinggali.

Di kota Baghdad ini, beliau belajar sejumlah ulama, diantaranya:

1. Al-Imam Abu Yusuf,  murid senior Al-Imam Abu Hanifah.

2. Al-Imam Husyaim bin Abi Basyir. Beliau mendengarkan dan sekaligus menghafal banyak hadits darinya selama 4 tahun.

3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.

4. Abdurrahman bin Mahdi.

5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.

Pada tahun 183 Hijriyah pada usia 20 tahun, beliau pergi untuk menuntut ilmu kepada para ulama di kota Kufah. Pada tahun 186 H beliau belajar ke Bashrah. Kemudian pada tahun 187 H beliau belajar kepada Sufyan bin ‘Uyainah  di Qullah,  sekaligus menunaikan ibadah haji yang pertama kali. Kemudian pada tahun 197 H beliau belajar kepada Al-Imam ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani di Yaman bersama Yahya bin Ma’in.

Yahya bin Ma’in menceritakan: “Aku keluar ke Shan’a bersama Ahmad bin Hanbal untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani. Dalam perjalanan dari Baghdad ke Yaman, kami melewati Makkah. Kami pun menunaikan ibadah haji. Ketika sedang thawaf, tiba-tiba aku berjumpa dengan ‘Abdurrazaq, beliau sedang thawaf di Baitullah. Beliau sedang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Aku pun mengucapkan salam kepada beliau dan aku kabarkan bahwa aku bersama Ahmad bin Hanbal. Maka beliau mendoakan Ahmad dan memujinya. Yahya bin Ma’in melanjutkan, “Lalu aku kembali kepada Ahmad dan berkata kepadanya, “Sungguh Allah telah mendekatkan langkah kita, mencukupkan nafkah atas kita, dan mengistirahatkan kita dari perjalanan selama satu bulan. Abdurrazaq ada di sini. Mari kita mendengarkan hadits dari beliau!”

Maka Ahmad berkata, “Sungguh tatkala di Baghdad aku telah berniat untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq di Shan’a. Tidak demi Allah, aku tidak akan mengubah niatku selamanya.’ Setelah menyelesaikan ibadah haji, kami berangkat ke Shan’a. Kemudian habislah bekal Ahmad ketika kami berada di Shan’a. Maka ‘Abdurrazaq menawarkan uang kepadanya, tetapi dia menolaknya dan tidak mau menerima bantuan dari siapa pun. Beliau pun akhirnya  bekerja membuat tali celana dan makan dari hasil penjualannya.” Sebuah perjalanan yang sangat berat mulai dari Baghdad (‘Iraq) sampai ke Shan’a (Yaman). Namun beliau mengatakan: “Apalah arti beratnya perjalanan yang aku alami dibandingkan dengan ilmu yang aku dapatkan dari Abdurrazaq.”

Al-Imam Abdurrazaq sering menangis jika disebutkan nama Ahmad bin Hanbal dihadapannya, karena teringat akan semangat dan penderitaannya dalam menuntut ilmu serta kebaikan akhlaknya.

Beliau melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu ke berbagai negeri seperti Syam, Maroko, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, Irak, Persia, Khurasan dan berbagai daerah yang lain. Kemudian barulah kembali ke Baghdad.

Pada umur 40 tahun, beliau mulai mengajar dan memberikan fatwa. Dan pada umur tersebut pula beliau menikah dan melahirkan keturunan yang menjadi para ulama seperti Abdullah dan Shalih. Beliau tidak pernah berhenti untuk terus menuntut ilmu. Bahkan, walaupun usianya telah senja dan telah mencapai tingkatan seorang Imam, beliau tetap menuntut ilmu.

Guru-guru beliau

Beliau menuntut ilmu dari para ulama besar seperti Husyaim bin Abi Basyir, Sufyan bin Uyainah, Al-Qadhi Abu Yusuf, Yazid bin Harun, Abdullah bin Al-Mubarak, Waki’, Isma’il bin ‘Ulayyah, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Imam Asy-Syafi’i, Abdurrazaq, Muhammad bin Ja’far (Ghundar), Jarir bin Abdul Hamid, Hafsh bin Ghiyats, Al-Walid bin Muslim, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain dan lain-lain.

Al-Imam Adz Dzahabi menyebutkan dalam kitab As-Siyar, jumlah guru-guru Al-Imam Ahmad yang beliau riwayatkan dalam Musnadnya lebih dari 280 orang.

Murid-murid beliau

Para ulama yang pernah belajar kepada beliau adalah para ulama besar pula seperti Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Zur’ah, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Qilabah, Baqi bin Makhlad, Ali bin Al-Madini, Abu Bakr Al-Atsram,  Shalih dan Abdullah (putra beliau), dan sejumlah ulama besar lainnya.

Bahkan yang dulunya pernah menjadi guru-guru beliau, kemudian mereka meriwayatkan hadits dari beliau seperti Al-Imam Abdurrazaq, Al-Hasan bin Musa Al-Asyyab, Al-Imam Asy-Syafi’i.

Al-Imam Asy-Syafi’i ketika meriwayatkan dari Al-Imam Ahmad tidak menyebutkan namanya bahkan dengan gelarnya, “Telah menghaditskan kepadaku Ats-Tsiqat (seorang yang terpercaya).

Demikian pula teman-temannya seperjuangan dalam menuntut ilmu, mereka juga meriwayatkan dari beliau, seperti Yahya bin Ma’in.

Ahlak dan Ibadah Beliau rahimahullah

Pertumbuhan beliau berpengaruh terhadap kematangan dan kedewasaannya. Sampai-sampai sebagian ulama menyatakan kekaguman akan adab dan kebaikan akhlaknya, “Aku mengeluarkan biaya untuk anakku dengan mendatangkan kepada mereka para pendidik agar mereka mempunyai adab, namun aku lihat mereka tidak berhasil. Sedangkan ini (Ahmad bin Hanbal) adalah seorang anak yatim, lihatlah oleh kalian bagaimana dia!”

Beliau adalah seorang yang menyukai kebersihan, suka memakai pakaian berwarna putih, paling perhatian terhadap dirinya, merawat dengan baik kumisnya, rambut kepalanya dan bulu tubuhnya.

Orang-orang yang hadir di majelis beliau tidak sekedar menimba ilmunya saja bahkan kebanyakan mereka hanya sekedar ingin mengetahui akhlaq beliau.

Majelis yang diadakan oleh beliau dihadiri oleh sekitar 5000 orang. Yang mencatat pelajaran yang beliau sampaikan jumlahnya adalah kurang dari 500 orang. Sementara sisanya sekitar 4500 orang tidak mencatat pelajaran yang beliau sampaikan namun sekedar memperhatikan akhlak dan samt (baiknya penampilan dalam perkara agama) beliau.

Yahya bin Ma’in berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad. Kami bersahabat dengannya selama 50 tahun. Dan belum pernah kulihat ia membanggakan dirinya atas kami dengan sesuatu yang memang hal itu ada pada dirinya.”

Beliau juga sangat benci apabila namanya disebut-sebut (dipuji) di tengah-tengah manusia, sehingga beliau pernah berkata kepada seseorang: “Jadilah engkau orang yang tidak dikenal, karena sungguh aku benar-benar telah diuji dengan kemasyhuran.”

Beliau menolak untuk dicatat fatwa dan pendapatnya. Berkata seseorang kepada beliau: “Aku ingin menulis permasalahan-permasalahan ini, karena aku takut lupa.” Berkata beliau: “Sesungguhnya aku tidak suka, engkau mencatat pendapatku.”

Beliau adalah seorang yang sangat kuat ibadahnya. Putra beliau yang bernama Abdullah menceritakan tentang kebiasaan ayahnya: ” Dahulu ayahku shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Dan tatkala kondisi fisik beliau mulai melemah akibat pengaruh dari penyiksaan yang pernah dialaminya maka beliau hanya mampu shalat sehari semalam sebanyak 150 rakaat.”

Abdullah mengatakan: “Terkadang aku mendengar ayah pada waktu sahur mendoakan kebaikan untuk beberapa orang dengan menyebut namanya. Ayah adalah orang yang banyak berdoa dan meringankan doanya. Jika ayah shalat Isya, maka ayah membaguskan shalatnya kemudian berwitir lalu tidur sebentar kemudian bangun dan shalat lagi. Bila ayah puasa, beliau suka untuk menjaganya kemudian berbuka  sampai waktu yang ditentukan oleh Allah. Ayah tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh (puasa tiga hari, tanggal 13, 14, 15 dalam bulan Hijriyah).

Dalam riwayat lain beliau berkata: “Ayah membaca Al-Qur’an setiap harinya 1/7 Al-Qur’an. Beliau tidur setelah Isya dengan tidur yang ringan kemudian bangun  dan menghidupkan malamnya dengan berdoa dan shalat.

Suatu hari ada salah seorang murid beliau menginap di rumahnya. Maka beliau menyiapkan air untuknya (agar ia bisa berwudhu). Maka tatkala pagi harinya, beliau mendapati air tersebut masih utuh, maka beliau berkata: “Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak melakukan dzikir pada malam harinya?”

Beliau telah melakukan haji sebanyak lima kali, tiga kali diantaranya beliau lakukan dengan berjalan kali dari Baghdad dan pada salah satu hajinya beliau pernah menginfakkan hartanya sebanyak 30 dirham.

Ujian yang menimpa beliau

Beliau menerima ujian yang sangat berat dan panjang selama 3 masa kekhalifahan yaitu Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Beliau dimasukkan ke dalam penjara kemudian dicambuk atau disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan. Itu semua beliau lalui dengan kesabaran dalam rangka menjaga kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk. Di masa itu, aqidah sesat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalamullah) diterima dan dijadikan ketetapan resmi oleh pemerintah.

Sedangkan umat manusia menunggu untuk mencatat pernyataan  (fatwa) beliau. Seandainya beliau tidak sabar menjaga kemurnian aqidah yang benar, dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, niscaya manusia akan mengiktui beliau. Namun beliau tetap tegar dan tabah menerima semua ujian tersebut. Walaupun beliau harus mengalami penderitaan yang sangat. Pernah beliau mengalami 80 kali cambukan yang kalau seandainya cambukan tersebut diarahkan kepada seekor gajah niscaya ia akan mati. Namun beliau menerima semua itu dengan penuh kesabaran demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah.

Sampai akhirnya, pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau dibebaskan dari segala bentuk penyiksaan tersebut.

Wafat beliau rahimahullah

Pada Rabu malam tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 241 Hijriyah, beliau mengalami sakit yang cukup serius. Sakit beliau semakin hari semakin bertambah parah. Manusia pun berduyun-duyun siang dan malam datang untuk menjenguk dan menyalami beliau. Kemudian pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awal, di hari yang ke sembilan dari sakitnya, mereka berkumpul di rumah beliau sampai memenuhi jalan-jalan dan gang. Tak lama kemudian pada siang harinya beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Maka meledaklah tangisan dan air mata mengalir membasahi bumi Baghdad. Beliau wafat dalam usia 77 tahun. Sekitar 1,7 juta manusia ikut mengantarkan jenazah beliau. Kaum muslimin dan bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani serta Majusi turut berkabung pada hari tersebut.

Selamat jalan, semoga Allah merahmatimu dengan rahmat-Nya yang luas dan menempatkanmu di tempat yang mulia di Jannah-Nya.

Maraji’:

1. Musthalah Hadits karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 63-66.

2. Pewaris Para Nabi hal. 49,55,91,94,173,1843. Mahkota yang hilang hal.39

4. Kitab Fadhail Ash-Shahabah jilid I hal 25-32.

5. Siyar A’lamin Nubala

6. Al-Bidayah wan Nihayah

7. Mawa’izh Al-Imam Ahmad

Buletin Islam Al Ilmu Edisi No : 29 / VII / VIII / 1431

Where Am I?

You are currently browsing the Imam Ahmad category at Kitab Hadith dan Syarah Hadith.